Ranah 3 Warna


Penulis: A. Fuadi. Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2010. 473 halaman.

Buku ini lanjutan dari buku Negeri Lima Menara. Setelah sang tokoh utama Alif menyelesaikan pendidikannya di Pondok Madani, cobaan untuk melanjutkan menuntut ilmu datang bertubi-tubi. Mulai dari tidak adanya ijazah SMA, pelajaran SMA yang harus dikejar, dan susahnya masuk universitas. Di samping banyak saingan, juga karena ekonomi keluarganya yang lemah. Dimotivasi oleh tim sepakbola Denmark yang bisa memenangkan Piala Eropa, akhirnya Alif berhasil lulus masuk Universitas Padjadjaran Jurusan Hubungan Internasional.

 Seakan belum cukup cobaan yang Allah berikan, Alif kembali mendapat cobaan. Ayahnya meninggal dunia. Alif yang kemudian menjadi kepala keluarga, harus berjuang meringankan beban ibunya dan untuk membiayai kuliahnya sendiri. Saat Alif mulai putus asa, dia mendapat mantra baru: Man shabara zhafira: siapa yang bersabar, dia akan beruntung. Dengan mantra itu ditambah mantra sebelumnya, Man jadda wa jada, akhirnya Alif berhasil mewujudkan mimpinya menjejak benua Amerika.

Di dalam buku ini ada nuansa-nuansa cinta yang bisa sedikit menghibur. Buku ini juga berhasil membawa pembaca ke tiga tanah berbeda. Kata-kata di buku ini juga mudah dipahami. Jadi buku ini benar-benar… mengagumkan.

 

Diringkas oleh Ahmad Zuhhad Abdillah (Angk.6 SMART EI).


Terlibat di Mahakam (Sandi #3)

 

 


Oleh Ahmad Zuhhad Abdillah (Angk6 SMART EI)

Penulis: Dwianto Setyawan. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, 1985. 220 halaman.

 

Kalimantan Timur adalah lokasi tempat Kerajaan Kutai dan Kerajaan Kutai Kartanegara berdiri. Kerajaan Kutai Kartanegara bercorak Islam, dengan lambang kerajaan berupa Lembu Suana, yang merupakan bentuk campuran dari hewan gajah, kuda, garuda dan naga.

 

Saat ini di Kalimantan Timur baru terjadi pencurian Lembu Suana mini, yaitu patung emas kecil tiruan dari Lembu Suana. Konon umur tiruan ini sudah seratus tahun dan dulu dibuat oleh seorang bangsawan Kutai Kartanegara. SANDI yang sedang berlibur di Kalimantan Timur mengetahui tentang hal ini dan kemudian membantu polisi dan Bung Baul Adam, seseorang yang dituduh merampok, untuk menangkap pencuri Lembu Suana mini.

 

Petualangan SANDI ini, menurut saya, lebih seru daripada petualangan yang lain. Kata-katanya pun lebih nyata dibanding dalam buku sebelumnya.

Terlibat di Trowulan (Sandi #2)

 


Oleh Ahmad Zuhhad Abdillah (Angk6 SMART EI)

Penulis: Dwianto Setyawan. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, 1986. 197 halaman.

Trowulan adalah ibukota kerajaan Majapahit. Karena itu banyak peninggalan Majapahit yang terdapat di sana. Kali ini SANDI berlibur di Trowulan ditemani oleh seorang calon sarjana arkeologi. Tujuan semula mereka yang hanya untuk melihat peninggalan Majapahit langsung berubah tatkala suatu malam mereka mendengar percakapan tiga orang yang mengincar suatu barang yang nampaknya benda peninggalan Majapahit. 

Maka SANDI mulai beraksi dibantu oleh teman baru mereka, Heru, untuk menggagalkan rencana jahat yang melibatkan sesosok hantu prajurit Majapahit itu.

Buku kedua dari serial SANDI ini kualitasnya sama dengan buku pertamanya. Tapi di buku ini hal-hal sejarahnya dimuat lebih banyak.

Resensi: Terlibat di Bromo (Sandi #1)

Penulis: Dwianto Setyawan. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, 1986. 

Rin Dama, Agung dan Ilhamsyah adalah tiga sekawan dari Surabaya. Mereka berencana berlibur ke Bromo untuk menikmati keindahan kawah Bromo. Tapi saat liburan itu, mereka dikejar-kejar oleh seorang laki-laki jangkung hanya karena Rin memotretnya. Di samping itu Rin juga sempat mendengarkan percakapan rahasia tentang suatu barang bernilai mahal yang ingin didapatkan oleh orang-orang misterius. Karena penasaran, mereka mendirikan kelompok penyelidik bernama SANDI.

Maka dimulailah petualangan yang membawa mereka ke sebuah kasus pernjualan ilegal benda purbakala peninggalan dari zaman Majapahit.

Buku ini lumayan bagus, tapi menurut saya ada kata-kata yang tidak pas dengan di kehidupan nyata. (01.2011)

Diresensi oleh Ahmad Zuhhad Abdillah (SMART EI Angk.6)