Tempat Gunung Berjumpa Rembulan (Where the Mountain Meets the Moon) – Ver.1

 

Oleh Ahmad Zuhhad Abdillah (Angk6 SMART EI).


 

Judul Asli: Where the Mountain Meets the Moon. Penulis: Grace Lin. Penerbit: Atria, 2010. 266 halaman.


 

Minli adalah gadis kecil yang dilahirkan dari orangtua yang tidak mampu. Mereka tinggal di sebuah desa di dekat sebuah gunung bernama Gunung Nirbuah. Gunung, desa dan Sungai Gio di dekatnya, sangat bernuansa kemiskinan dan kegersangan. Namun Minli berbeda, dia memiliki wajah berseri-seri karena sering diceritakan kisah-kisah oleh ayahnya.


 

Suatu hari Minli membeli seekor ikan mas yang dianggapnya bisa membawa keberuntungan ke rumahnya. Ternyata ikan mas itu bisa bicara, ia memberitahu Minli cara menemui Kakek Rembulan yang bisa menjawab semua pertanyaan karena sang kakek memiliki Kitab Peruntungan. Maka dengan niat yang teguh, ia memulai perjalanan dengan ditemani seekor naga yang tidak bisa terbang, ke tempat Kakek Rembulan berada. Dalam perjalanan itu mereka bertemu dengan tokoh-tokoh dalam kisah yang diceritakan ayah Minli, Ada Harimau Hijau, jelmaan Hakim Harimau yang jahat; suatu keluarga yang berbahagia; Wukang yang tidak pernah puas; sang Dewi Pemintal; dan akhirnya Kakek Rembulan sendiri.


 

Buku ini penuh berisi dongeng-dongeng dari Cina yang diubah. Bahasanya mudah dipahami dan ada ilustrasi yang menarik. Buku ini juga memberi kita pelajaran untuk menerima apa yang telah kita dapatkan.

 

 

Meniti Bianglala (The Five People You Meet In Heaven)

Oleh Genta Maulana Mansyur (SMART EI Angk.6)

Judul asli: The Five People You Meet in Heaven. Penulis: Mitch Albom. Penerjemah: Andang H. Sutopo. Terbitan PT. Gramedia Pustaka Utama, 2007, 204 halaman.

 

Pembayangan surga yang sangat berbeda dengan apa yang telah kita ketahui mewarnai buku ini. Versi yang digambarkan di buku ini oleh pengarangnya merupakan sebuah dugaan, harapan, agar orang-orang lain yang menganggap keberadaan mereka di dunia ini tidak penting, menyadari betapa mereka sangat berarti dan disayangi.

 

 

Kematian Edward (Eddie) yang tragis yang digambarkan melalui countdown sisa waktu hidupnya yang sangat menggetarkan jiwa sebagai permulaan buku ini. Hari itu sebagaimana biasanya, ia menjalankan tugas rutinnya memperbaiki wahana permainan di taman hiburan tanpa tahu itulah jam-jam terakhir hidupnya.

 

 

Saat ia di akhirat yang sama sekali berbeda dengan bayangannya, ia dihadapkan dengan seorang manusia aneh berkulit biru yang mengakui bahwa ia meninggal karena Eddie kecil bermain lempar bola di jalan. Bola itu jatuh ke jalan aspal di mana si Orang Biru yang penggugup sedang menyetir mobilnya. Pria itu kaget dan menjadi gugup saat Eddie berlari mengambil bola. Ia membanting setir dan akhirnya meninggal. Namun yang Eddie tahu ia telah mendapatkan bolanya.

 

 

Si Orang Biru pun menjelaskan bahwa di akhirat ini Eddie akan bertemu lima orang yang berbeda dengan lima pelajaran yang berbeda. Si Orang Biru itu adalah “orang pertama” Eddie dengan pelajaran pertamanya: tidak ada kejadian yang terjadi secara acak, karena pasti akan berhubungan dengan orang lain atau hal lain. Dan bahwa keadilan tidak akan mengukur mati dan hidup karena bila keadilan yang mengatur, maka tidak akan ada orang yang mati muda.

 

 

Orang kedua” Eddie adalah kaptennya saat di medan Perang Dunia II di Filipina dengan pelajaran kedua: kadang-kadang, kalau kita mengorbankan sesuatu yang berharga, kita tidak sungguh-sungguh kehilangannya, namun hanya meneruskannya kepada orang lain. 

 

 

Orang ketiga”-nya adalah seorang wanita penjaga bar dengan pelajaran ketiga: menyimpan marah adalah racun. Marah menggerogoti diri kita dari dalam. Kadang kita mengirakebencian merupakan senjata untuk menyerang orang yang menyakiti kita. Tapi kebencian adalah pedang bermata dua, dan luka yang kita buat dengan pedang itu kita lakukan kepada diri kita juga.

 

 

Orang keempat”-nya adalah isterinya sendiri, Marguerite. Pelajaran keempat darinya adalah: cinta yang hilang tetaplah cinta, hanya bentuknya saja yang berbeda. Kita tidak bisa terus melihat orang yang kita cintai; senyumnya, membawakan makanan untuknya, memeluknya atau menciumnya. Tapi ketika indra manusia melemah, ada indra lain yang menguat: kenangan menjadi cinta itu sendiri. Kehidupan memang harus berakhir, tapi cinta tidak.

 

 

Orang terakhir”-nya adalah seorang gadis kecil yang ditinggalkan Eddie terbakar di rumahnya di Filipina. Pelajaran terakhirnya adalah: walau kadang kita merasakan kehidupan kita begitu tidak berguna, ternyata hal-hal yang kita lakukan itu berguna bagi orang lain. Dan setiap kehidupan itu pasti mempengaruhi kehidupan berikutnya, berikutnya, dan berikutnya, dan semua kisah kehidupan itu adalah satu.

 

 

Buku ini sangat renyah dibaca dalam menghadapi situasi kesedihan atau kekalahan karena pesan-pesan (pelajaran) moralnya mengajarkan kita bahwa hidup itu sangat berarti. Janganlah kita menyia-nyiakannya dengan larut dalam kesedihan, kepedihan dan penyesalan.

 

Dengan bahasa yang “mudah”, buku ini pasti bisa dibaca semua kalangan, tua atau muda. Kita pun tak akan menyesal membacanya, karena bila kesedihan melanda kembali, bukalah buku ini dan kita takkan merasa bosan akan isi di dalamnya.

The Wizard of Oz – Ver.1

 


Oleh Ahmad Zuhhad Abdillah (Angk6 SMART EI).

Penulis: L. Frank Baum. Penerbit Atria, November 2010. 206 halaman.

 

Dorothy adalah seorang gadis periang yang tinggal di padang rumput Kansas yang serba kelabu. Dia tinggal bersama Paman Henry dan Bibi Em. Suatu ketika rumanhya diterbangkan angin puting beliung bersama Dorothy dan Toto, anjingnya. Mereka terdampar di negeri Oz yang permai, namun demikian Dorothy tetap ingin pulang.

 

Di negeri Oz itu terdapat lima orang penyihir. Pertama adalah penyihir timur yang jahat, lalu penyihir utara yang baik, penyihir barat yang jahat, penyihir dari selatan yang baik serta Oz yang menyebut dirinya sendiri Penyihir Agung. Dorothy harus pergi menemui Oz agar bisa pulang. Maka dimulailah petualangan Dorothy dan Toto yang kemudian ditemani oleh Boneka Jerami yang ingin punya otak, Tin Woodman yang ingin punya hati, dan Singa Penakut yang ingin punya keberanian untuk menemui Oz.

 

Cerita buku ini bagus, pantas menjadi cerita yang melegenda. Ilustrasinya juga bagus, seperti nyata. Ceritanya nyambung walau Dorothy berasal dari dunia nyata bertualang di dunia dong eng. Kata-katanya juga mudah dipahami, jadinya bisa dibaca semua umur.