The Necromancer (The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel #4) – Ver.1

Oleh Ahmad Zuhhad Abdillah (Angk6 SMART EI)

Pengarang: Michael Scott. Penerjemah: M. Baihaqqi. Diterbitkan oleh Penerbit Matahati, Januari 2011, tebal 492 halaman.

Josh dan Sophie Newman yang merupakan kembar pemilik aura perak dan emas bersama pasangan Flamel kini kembali ke San Fransisco. Misi awal untuk merebut Codex dari Dee, musuh bebuyutan pasangan Flamel, kini berubah menjadi misi menyelamatkan dunia dengan mengalahkan monster-monster di Alcatraz. Sebelum itu Josh harus berguru kepada Prometheus untuk bisa mengendalikan elemen api.

Sementara itu, Dee yang tidak berhasil mengangkap pasangan Flamel dan si kembar Newman, kini menjadi buronan. Dia dikejar-kejar oleh para tetua dan makhluk lainnya, tapi dia berhasil mengumpulkan empat pedang legendaris, yaotu Joyeuse, Durendal, Excalibur dan Clarent. Dia berniat memanggil sang induk dari segala dewa, Coatlicue untuk menghancurkan para tetua dengan keempat pedang itu. Dee dan Virginia Dare sekutunya, mengendalikan Josh dan menjadikan Josh umpan untuk Coatlicue.

Di tempat lain, Scatach dan Joan d’Arc yang semula berpikir berada di masa dinosaurus, menyadari ternyata itu adalah alam bayangan. Bersama Saint-Germain, Shakespeare dan Palimedes, mereka dibawa oleh pemilik alam bayangan itu, Marethyu kembali ke masa Danu Talis jatuh untuk menghancurkan Danu Talis agar manusia bisa tercipta.

Di saat yang sama pasangan Flamel harus berjuang sendiri bersama Sophie untuk menyelamatkan dunia dan Josh dari tangan Dee dengan empat pedangnya atau para Tetua Gelap karena waktu nereka muncul semakin dekat.

Buku ini benar-benar bagus. Penulis seperti membuat oara pembaca melihat seluruh cerita buku ini. Buku ini berhasil menggabungkan mitologi dan fantasi sendiri ditambah fakta asli ilmiah menjadi benar-benar pas dan seperti nyata. Pantas menjadi best-seller versi New York Times.

Mr Fox yang Fantastis


 

 

Diringkas oleh M. Fadhly (Angk.7 SMART EI)

Judul Asli: Fantastic Mr Fox. Penulis: Roald Dahl. Ilustrator Quentin Blake. Penerjemah: Diniarty Pandia. Terbitan PT Gramedia Pustaka Utama, tahun 2001, 96 halaman.

 

Suatu hari di lembah ada tiga orang peternak. Yang pertama adalah peternak ayam yaitu Boggis. Ciri-ciri Boggis ini adalah tubuhnya besar, gendut, dan juga kejam. Yang kedua adalah Bunce, seorang peternak bebek dan angsa. Dia sangat pelit, dan juga kejam. Ciri-ciri tubuh Bunce adalah pendek memiliki perut buncit. Dan yang terakhir adalah Bean. Bertubuh kerempeng, tinggi, dan suka minum sari buah apel.

 

Pada suatu hari Mr Fox sang rubah mencuri makanan di masing-masing gudang makanan para peternak. Pera peternak sudah tahu bahwa dia pencurinya. Pada malam hari, ketiga peternak mencari tempat aman untuk persembunyian. Tapi Mr Fox lebih cerdas, dia sudah mencium bau para peternak dari jarak 1 km. Kemudian dia menuju jalur lain.

 

Karena kesal patra peternak mendatangi lubang yang dibuat oleh sang rubah. Dengan membawa senjata mereka menunggu Mr Fox keluar dari lubang untuk mencari makanan. Suatu malam Mr Fox keluar dari lubang. Ia menyusuri lubang dengan sangat hati-hati. Sesampainya di luar lubang Mr Fox langsung dihantam oleh peluru-peluru yang mengenaskan. Dor, dor, dor, bunyinya. Ekor sang rubah putus dihantamnya.

 

Luka sang rubah diobati oleh istrinya yaitu Mrs Fox, dengan cara menjilat-jilati ekor itu. Malam itu mereka tidak makan. Para peternak kesal, mereka tidak bisa menunggu Mr Fox keluar lagi. Mereka langsung menggalinya dengan sekop yang bagus dan berkualitas. Di bawah, di tempat persembunyian Mr Fox dan keluarga terdengar bunyi sekop yang sedang menggali. Mereka semua sudah takut untuk dibunuh oleh para peternak. Kemudian Mr Fox memikirkan cara yang terbaik untuk mereka semua. Mereka harus menggali lubang lebih dalam lagi ke bawah. Mereka semua bersemangat dan akhirnya berhasil.

 

Para peternak bosan menggali dengan sekop. Bunce dan Boggis pulang ke peternakan untuk mengambil traktor. Mereka menggali dengan dalam lubang yang dibuat okeh sang rubah. Mr Fox pun tidak mau kalah, dia menggali terus sampai ke bawah. Akhirnya yang menang adalah Mr Fox.

 

Para peternak menunggu di atas selama tiga hari karena tidak berhasil menggali lubang Mr Fox. Keluarga rubah di dalam lubang pun kelaparan. Mr Fox memikirkan cara leih baik agar mereka semua bisa makan. Ia memikirkan ide tapi kelihatannya tidak efektif, yaitu menggali lagi. Anak-anak Mr Fox mau melakukannya, mereka menggali dengan penuh semangat dan sampai di gudang makanan ayam Boggis. Mereka sangat bahagia, lalu mengambil tiga ekor ayam yang gemuk. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan Badger dan teman-temannya yang sangat senang bertemu keluarga Fox. Sebagian teman Badger pulang dan sebagian lagi ikut Mr Fox.

 

Penggalian Mr Fox sampai ke tempat lain, yang ternyata adalah gudang makanan Bunce. Mereka cepat-cepat mengambil angsa dan bebek, juga roti. Perjalanan selanjutnya adalah gudang sari buah Bean. Sampai di sana mereka bertemu dengan Rat si tikus. Rat marah karena diganggu, tapi Mr Fox balik memarahinya hingga Rat pun mundur.

 

Rombongan Mr Fox mencoba minum sari buah. Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang ingin mengambil sari buah untuk Bean. Cepat-cepat mereka bersembunyi di balik botol sehingga tidak ketahuan. Setelah mengambil sari buah mereka segera pulang. Para rubah dan teman-temannya sangat senang dan berpesta besar di liang mereka. Dengan jalur bawah tanah ke gudang makanan para peternak, mereka tidak perlu keluar ke permukaan lubang mereka selama-lamanya.

 

Di atas tanah, di ujung lubang itu terlihat tiga peternak tetap menunggu Mr Fox keluar. Kelihatannya mereka harus menunggu selamanya.

 

Buku ini keren untuk anak-anak dan bahasanya mudah dimengerti.

(Ringkasan Buku) Judy Moody: Lagi Mood. Bukan Mood Bagus. Mood Jelek

 

Diringkas oleh Karunia Adiyuda Dilaga (SMART EI Angk.7)

Pengarang: Megan McDonald. Ilustrator: Peter H. Reynolds. Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2006.

Di sekolahnya Judy dan kawan2 diberi tugas oleh Mr Tood untuk membuat kolase. Dalam kolase tersebut tercantum kejadian2 yang ia alami. Setelah sekian lama ia mengumpulkan gambar2nya, ternyata ada yang belum ia masukkan dalam kolasenya tersebut, yaitu membuat klub.

Pada suatu hari temannya yang bernama Rocku memegang seekor kodok. Kodok itu terasa halus dan benjol2 dan dingin-tapi-nggak-licin. Saat itulah Rocky merasakan sesuatu yang hangat dan basah. Ternyata kodok itu kencing di tangannya. Kejadian yang sama juga dialami oleh Judy, dan mereka membuat nama klub dari kejadian tersebut. Mereka menamainya “Klub Kodok Kencing!” dan mereka menuliskan Klub KK/

Judy menyelsaikan kolasenya setelah pulang sekolah. Dan kolase itu harus dikumpulkan besok. Ketika Judy bangun keesokan paginya, lagi2 hujan turun dengan sangat lebatna. “Masukkan saja kolasenya ke kantong plastik sampah yang besar supaya tidak basah,” usul Dad. Tetapi Judy tidak mau membawa kolasenya dengan plastik sampah. Mum bertanya, bagaimana kalau kau naik bus, dan biar Dad yang membawakan kolasemu ke sekolah.” Tetapi Judy tidak mau, Judy khawatir kolasenya tersebut rusak. Akhirnya Judy mau kolasenya dibawakan oleh Dad dan Mum.

Jam sebelas tiba, dan kolasenya masih belum datang. Judy meminta kepada Mr Todd agar dirinya tampil terakhir. Ternyata di kolasenya terdapat noda ungu yang sangat besar. Judy langsung membuat noda ungu tersebut menjadi gambar tempat tinggalnya.

Dad berkata, “Aku bangga padamu, Judy, bagaimana kau membuat kecelakaan seperti ini dan mengubahnya menjadi sesuatu yang positif.”