The Rescue (Guardians of Ga’hoole #3)

 

Oleh Rofi Muhammad Nur Al-Asad (Angkatan 7 SMART EI)

Penulis: Kathryn Lasky. Penerjemah T. Dewi Wulansari. Penerbit Kubika, 2011, 248 halaman.

 

Ezylryb telah hilang hampir dua bulan. Seluruh penghuni Ga’hoole terus menunggu. 

 

Sementara itu anggota claw cuaca belajar bersama Poot. Di tengah perjalanan, mereka diterjang angin topan dan akhirnya Martin, anggota claw cuaca yang berbada paling kecil terhisap penyedot hampa udara, lalu menghilang. Anggota claw yang lain selamat. Ketika semua sedang mencari Martin, datanglah seekor burung camar  yang membawa Martin dalam keadaan selamat.

 

Ketika mereka mendarat di sebuah hutan, Soren merasa ada yang aneh di dalam hutan itu. “Hutan Roh,” ujar Poot. Ternyata memang itu adalah hutan yang mengerikan. Di sana ada makhluk yang bernama Scroom, yaitu roh burung hantu yang belum mencapai Glaumora, surga bagi para burung hantu. Roh-roh itu belum mencapai Glaumora karena masih ada tugas yang belum terselesaikan.

 

Karena badai masih berlangsung, para burung hantu claw Cuaca terpaksa bermalam di hutan itu dan membagi giliran berjaga. Soren mendapat jadwal jaga terakhir, yaitu menjelang gelap. Waktu Soren berjaga dan berdiri di gundukan jaga, ia melihat gumpalan kabut tebal yang membentuk dua burung hantu, yaitu ayah dan ibu Soren. Tubuh Soren seakan terangkat hingga ke dahan sebuah pohon cemara. Setelah saling berbalas kata, penampakan Ayah dan Ibu Soren memberi pesan untuk berhati-hati tehadap Paruh Logam. Ketika Soren menanyakan mengapa, kedua sosok itu menghilang dan Soren terbangun. Ternyata ia masih berdiri di tempat sebelumnya, yaitu gundukan jaga. Ia bertanya-tanya apakah yang dialaminya adalah mimpi.

 

Setelah langit mulai gelap, para burung hantu itu pun pulang. Sesampai di Ga’hoole, soren langsung menemui Bubo si pandai besi untuk menanyakan mengenai Paruh Logam. Terakhir Bubo mengatakan bahwa yang lebih tahu tentang hal itu adalah burung hantu pandai besi keliling di Selubung Perak. Sembunyi-sembunyi Soren, Gylfie, Digger dan Twilight melakukan perjalanan ke Selubung Perak. Setelah mendapat informasi, mereka pun kembali. Namun ternyata Booron dan Barran mengetahui perjalanan itu sehingga mereka diberi Pel Batu, yaitu semacam hukuman, tapi bukan hukuman.

 

Diam-diam Soren dan Gylfie telah merencanakan sesuatu. Mereka akan memasuki sarang Ezylryb, siapa tahu di sana ada jejak lagi. Tapi Digger mendengar rencana kedua burung hantu itu sehingga ia memaksa  untuk ikut. Di sarang Ezylryb, Soren menemukan sebuah lubang rahasia di mana terdapat benda-benda rahasia. Saat itu juga Octavia, seekor ulat pelayan sarang memergoki mereka, walau ia tidak marah dan justru memberi informasi.

 

Sekian banyak informasi yang didapat Soren dkk, sehingga mereka semakin penasaran untuk melawan Paruh Logam dan menyelamatkan Ezylryb. Suatu hari mereka berempat bersama Eglantine dan Otulissa berangkat menuju kastel yang diceritakan Eglantine. Sampai di sana awalnya mereka tidak menemui apa-apa. 

 

Sementara itu di sudut lain, seekor burung hantu pekik tua bertengger di atas pohon dengan kebingungan. Dialah Ezylryb. Dia berada di sana karena tidak bisa melakukan apa-apa dan pikirannya dipenuhi kebingungan.

 

Kembali ke kastel, kelompok burung hantu muda menemukan sekantong bintik-bintik. Otulissa teringat dengan hal yang pernah dibacanya. Bintik-bintik itu membahayakan. Jika ada tiga kantong bintik-bintik diletakkan di tempat tertentu maka akan terjadi segitiga iblis yang menyeramkan. Bintik-bintik atau logam Mu itu dapat dihancurkan dengan api. Para burung hantu pun segera mencari api dan memusnahkan kantong logam Mu itu.

 

Lalu Paruh Logam dan prajuritnya datang, sehingga pertempuran pun terjadi. Martin dan Ruby kini datang dan bergabung dalam pertempuran. Ketika Soren mendekati si Paruh Logam dan mencongkel topengnya, ternyata wajah di balik topeng itu adalah wajah Kludd, kakaknya. Soren terkejut, namun tidak banyak waktu berpikir. Mereka memenangkan pertarungan, dan berhasil menemukan Ezylryb yang sudah tidak bingung lagi setelah kantong bintik-bintik logam Mu dihancurkan. Mereka semua pun pulang kembali ke Ga’Hoole.

 

Cerita ini sungguh menarik, terutama adegan perangnya, yang membuat saya sendiri gemetar. Baru kali ini saya membaca buku setebal ini, dan itu karena ceritanya yang menarik hingga saya jadi ketagihan dan ingin membaca buku selanjutnya.


Mengunjungi Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken

Oleh: Vera D. Damiri

Judul asli: Bibbi Bokkens magische Bibliothek. Pengarang Jostein Gaarder & Klaus Hagerup. Penerjemah: Ridwana Saleh. Penerbit Mizan, 2006, tebal 294 halaman.

*review ini pindahan dari goodreads.com, dibuat bulan Maret 2008:) *

Nils Torgersen dan Berit Boyum dalam buku ini bergantian menulis di sebuah buku-surat yang mereka kirimkan melalui jasa pos. Bukan cuma kabar tentang keluarga, mereka juga bertukar ide gila dan imajinasi.

Oiya, Nils (cowok) dan Berit (cewek) adalah dua remaja bersepupu yang tinggal di dua kota Oslo dan Fjaerland yang tepisah ratusan kilometer di Norwegia. Buku-surat adalah ide mereka mengumpulkan “kata-kata dalam album, bukan foto”. Semua hal mereka ceritakan bergantian, saling membalas dan bersambungan.

Tadinya hal sepele dalam pikiran muda mereka yang dijadikan bahan cerita, misalnya tentang riwayat pembelian buku yang mereka jadikan buku-surat ini, dan tentang hal-hal yang mereka temui sehari-hari. Sebuah nama “Bibbi” yang dibaca Berit pada sebuah surat akhirnya menghantui mereka dan menghantarkan kedua tokoh utama ini pada sosok Bibbi Bokken, seorang perempuan misterius yang nampaknya punya kemampuan untuk ada di mana saja dan ternyata mengenal siapa saja.

Dalam upaya mereka mencari tahu apa dan siapa sebenarnya Bibbi Bokken itu, Nils dan Berit dihadapkan pada banyak teka-teki aneh. Misalnya, apakah Bibbi Bokken itu seorang pembunuh berseri yang mencintai buku, penasehat rahasia mantan Wakil Presiden AS Walter Mondale atau sekedar perempuan setengah baya yang kesepian di rumah kosong bercat kuningnya? Apa sebenarnya rencana Bibbi dengan “buku yang akan terbit tahun depan”? Lalu apa hubungan antara Bibbi dengan Astrid Lindgren dan bahkan Ratu Sonja?

Bab pertama buku ini menempatkan pembaca pada alam pikir dan prasangka Nils dan Berit tentang hal yang mereka hadapi. Surat keduanya yang sambung-menyambung membawa kita pada makin rumitnya keseharian mereka, dan semuanya berhubungan dengan Bibbi! Kita bagaikan melihat bagaimana kedua remaja ini dipaksa memutar otak menggali berbagai misteri dalam berbagai cara yang mereka bisa. Berit harus pura-pura menjual karcis lotere ke rumah Bibbi, dan Nils bagaikan detektif memanfaatkan kunjungan akhir pekan bersama orang tuanya ke Roma untuk melacak jejak surat yang dikirim untuk Bibbi.

Dalam bab pertama inilah banyak hal yang terkait dengan buku digelar, mulai dari istlah incunabula, bibliophile, klasifikasi desimal Dewey untuk katalog perpustakaan, hingga pengenalan para tokoh penulis drama (Henrik Ibsen), memoar (Anne Frank), dan cerita anak-anak (HC. Andersen, Astrid Lindgren, dan AA. Milne). Hal yang menyenangkan adalah, semua hal ini tidak muncul berdesak-desak, tetapi dengan sabar menanti diselipkan bergantian pada salah satu surat Nils atau Berit. Rasanya seperti mengikuti sandiwara radio di mana tokoh-tokohnya bergantian muncul tanpa disangka dan kita bisa tahu peran mereka dari alur cerita yang berjalan.

Akhirnya setelah lebih dari dua pertiga buku, pembaca dibawa pada petualangan naratif nir-teks Nils dan Berit. Bab ini diawali seperti film yang menunjukkan pada penonton bahwa “tokoh kita ditangkap garong!” Kedua jagoan kita akhirnya menyibak rahasia besar Bibbi Bokken di hadapan orangnya sendiri, rahasia yang akhirnya membuat pembaca terperangah: jadi Bibbi ini sebenarnya penjahat atau jagoan, sih?

Hal yang membuat saya begitu terpikat pada buku ini adalah kemampuan kedua penulisnya untuk bercerita dengan begitu khas remaja. Kesembronoan, keangkuhan sekaligus ketakutan anak belasan tahun bisa terlihat dari tiap kalimat di buku ini. Tulisan dalam buku surat misalnya, mencerminkan ketinggian daya khayal anak-anak, di mana kadang Nils menjadi detektif, kadang sastrawan dan Berit bisa juga jadi pencuri profesional. Layaklah bila membaca buku ini kita akan lebih menghargai buku, atau lebih luasnya, budaya baca tulis.

Saya kutipkan salah satu narasi dari Nils di buku ini: “…setiap kali membuka sebuah buku, aku akan bisa memandang sepetak langit. Dan jika membaca sebuah kalimat baru, aku akan sedikit lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan segala yang kubaca akan membuat dunia dan diriku sendiri menjadi lebih besar dan luas…”

Yuk, bangun perpustakaan rahasia kita sendiri!

The Journey (Guardians of Ga’Hoole #2)

Oleh Rofi Muhammad Nur Al-Asad (Angk7 SMART EI)

Pengarang: Kathryn Lasky. Penerjemah T. Dewi Wulansari. Penerbit Kubika, 2010, tebal 301 halaman.

Setelah bertemu Digger, Soren dan kawan-kawan terbang menuju pohon Ga’Hoole Agung di siang hari. Lalu mereka diserang gerombolan burung gagak. Akhirnya mereka berhasil lolos meski salah satu sayap Digger terluka. Mereka sampai di lubang pohon cemara besar dan di sana Mrs Plithiver merawat luka Digger.

Selesai beristirahat, mereka melanjutkan perjalanan melalui jalur Sungai Hoole. Tampak kepulan asap di tengah hutan yang membumbung ke atas. Mereka mendatanginya, dan setelah sampai di depan mulut gua sebagai pusat kebakaran mereka melihat seekor kucing hutan. Dengan cepat mereka berusaha membunuh kucing itu. Penasaran melihat gua tadi, mereka pun memasukinya, dan menjumpai seekor burung hantu berbintik yang sekarat. Soren bertanya, “Apakah mereka menginginkan Cakar Perang? Apakah mereka dari St Aggie?” Tapi burung hantu berbintik itu menjawab, “Mereka lebih mengerikan dari St Aggie… Oh! Seandainya saja…”. Lalu burung itu pun mati.

Mereka pun melanjutkan perjalanan dan sampai di Danau Cermin. Tempat itu menyenangkan sehingga keempat burung hantu itu bermalas-malasan. Tapi berbeda dengan Mrs P yang cemas dengan keadaan ini sehingga ia mengajak mereka melanjutkan perjalanan meski menghadapi hujan dan angin salju. Lalu mereka sampai di Kerajaan Utara dan ini berarti telah melewati Pohon Ga’Hoole Agung yang berada sebelum Kerajaan Utara di tengah Laut Ga’Hoolemare. Mereka terbang berputar kembali dan sampai di Pohon Ga’Hoole Agung.

Di sana mereka mengalami kehidupan bersekolah di chaw masing-masing. Ketika Digger mencari korban anak burung hantu yang tersesat dalam tugas chaw-nya, dia melihat burung hantu yang mirip Soren. Ternyata itu memang adik Soren, Eglantine. Tapi Eglantine seperti tidak mengingat kakaknya. Hal itu lebih dari sekadar pembingungan di St Aggie. Namun setelah Madame Plonk menyanyikan lagu pengantar tidur akhirnya Eglantine pun tersadar. Dia hidup seperti biasa lagi. Mentari mulai muncul dan mereka tidur.

Membaca buku ini buat saya menarik sekali. Ceritanya juga dapat menginspirasi kehidupan saya. Burung hantunya unik-unik. Saya juga bisa mengambil banyak hikmah dalam cerita ini. Selain itu saya juga jadi tertarik dengan makhluk hidup yang bernama burung hantu :p