“Pangeran Kecil Telah Kembali…”

Oleh: Vera D. Damiri.

Judul buku : Pangeran KecilPengarang : Antoine de Saint-Exupery. Penerjemah : Hendrik Muntu (diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari The Little Prince and A Letter to A Hostage, terjemahan bahasa Inggris oleh TVF. Cuffe dari edisi Perancis Le Petit Prince). Penerbit : Jendela, Yogyakarta, Maret 2003. Tebal : xlxii + 167 halaman

Dunia anak-anak sering dianggap membosankan oleh banyak orang dewasa. Bermain dan berkhayal, kegiatan favorit anak-anak, dianggap pemborosan waktu oleh orang dewasa yang menganggap semestinya anak-anak lebih tekun belajar, agar “kelak menjadi pintar dan bisa bekerja untuk mendapatkan banyak uang”. Sebaliknya kegiatan orang dewasa yang serius pun dipandang membosankan oleh anak-anak. Setiap hari rutin bekerja keras demi memperoleh uang, makanan, rumah, dan barang-barang lain, bukan hal menarik bagi anak-anak karena bagi mereka banyak hal-hal kecil lain yang tak kalah penting yang bisa membuat hidup lebih menyenangkan.

Maka beruntunglah orang dewasa yang bisa memiliki pengertian atas masa kanak-kanak yang ceria. Orang-orang ini bisa belajar banyak hal menuju kebaikan dengan bercermin pada tingkah laku anak-anak yang masih murni. Sayangnya makin sedikit orang dewasa yang bisa memahami pikiran anak-anak, setidaknya untuk membiarkan anak-anak punya daya khayal sendiri. Yang lebih sering terjadi, keberadaan anak-anak malah dianggap perintang pekerjaan orang dewasa! Memang ironis, kebanyakan orang telah melupakan bahwa semua orang dewasa pada mulanya adalah anak-anak, seperti kata penulis dan penerbang asal Perancis, Antoine de Saint-Exupery dalam lembar persembahan bukunya Le Petit Prince.

Diklaim sebagai sebuah cerita berbahasa Perancis yang paling inspiratif dan paling banyak diterjemahkan di seluruh dunia, Le Petit Prince pertama kali terbit tahun 1943. Kisahnya dimulai dari tuturan seorang pilot pesawat udara mengenai masa kecilnya. Saat berusia enam tahun ia sudah menghadapi sifat pengatur orang dewasa yang melarangnya meneruskan kesenangan menggambar. Setelah besar dan menjadi pilot, suatu ketika pesawatnya mengalami kerusakan dan terpaksa mendarat sendirian di tengah keluasan padang pasir Sahara. Sang pilot kemudian didatangi seorang anak kecil berambut keemasan yang memintanya menggambarkan seekor biri-biri. Selama berhari-hari pilot tersebut berusaha mengetahui kisah hidup “Pangeran Kecil” itu, dan ketika hampir seluruh riwayat Pangeran Kecil akhirnya terbuka, ternyata waktu perpisahan pun tiba. Pangeran Kecil itu kembali ke planetnya yang sangat jauh dari bumi…

Le Petit Prince bisa dibilang merupakan gabungan antara dongeng dan fabel. Pendongengnya adalah sang pilot yang terdampar di gurun, sementara tokoh ceritanya adalah seorang anak yang banyak tanya, sekuntum bunga mawar yang melankolis, seekor ular gurun yang suka berteka-teki, dan seekor rubah yang menanti seseorang untuk menjinakkannya. Kisah yang melibatkan tokoh-tokoh ini begitu menyentuh, sehingga sang pilot pendongeng terkadang tak bisa menahan perasaannya dan membuat kita yang membaca dongeng itu ikut terhanyut.

Pangeran Kecil yang menjadi tokoh cerita ini berasal dari “Asteroid B 612”, sebuah benda angkasa di antara sekian ribu asteroid lain. Ukuran asteroid itu begitu kecil sehingga tidak lebih besar dari sebuah rumah (halaman 17). Di sana tadinya hanya terdapat tiga buah gunung, benih-benih pohon baobab dan bunga liar biasa yang tersembunyi di dalam tanah, hingga suatu hari tumbuh sekuntum bunga mawar yang cantik dan suka mencari perhatian. Pangeran Kecil diam-diam mencintai mawar itu, tapi ia tak tahan dan pergi meninggalkan planetnya; berkelana di planet-planet lain dan menjumpai penghuninya, sebelum akhirnya tiba di Bumi.

Banyak hal menarik yang dijumpai Pangeran Kecil dalam perjalanan melintasi bintang-bintang. Ada gambaran sifat egois dan sewenang-wenang manusia dewasa pada sosok Raja; si Congkak; Peminum; dan Pengusaha. Namun ia juga mempelajari bentuk kesetiaan pada wujud Penjaga Lampu (hal 45-69). Perjumpaan dengan seorang ahli geografi yang tinggal di sebuah planet, dan dengan seekor rubah Bumi yang bijak malah membuatnya makin teringat akan bunga mawar yang ditinggalkannya sendirian. Ia belajar bagaimana suatu makhluk hidup tercipta untuk “mengikat” hati dan pikiran makhluk hidup lain, perasaan yang akhirnya menjalari sang pilot dengan kehadiran Pangeran kecil itu bersamanya di tengah gurun pasir.

Tidak berlebihan rupanya jika dikatakan kisah Pangeran Kecil ini sebagai salah satu karya sastra klasik abad ke-20 yang mendunia dan tidak lekang oleh zaman. Walau tergolong bacaan anak-anak, pembaca dewasa juga bisa menikmati dan ikut terhanyut pada nilai-nilai kemanusiaan dan kisah-kisah hubungan antarmakhluk hidup yang ada di buku ini.

Keseluruhan kisah Pangeran Kecil ini benar-benar selalu menarik untuk dibaca. Pilihan gaya bahasa ringan yang dipakai Saint-Exupery berhasil menempatkan tokoh pilot yang bertindak sebagai pendongeng kepada teman-teman kecilnya sebagai orang dewasa yang masih berhati kanak-kanak. Di beberapa bagian ia sering menyatakan rumitnya jalan pikiran orang dewasa sebagai refleksi atas pengalaman masa anak-anaknya. Namun pilot itu juga, apa boleh buat, tetap seseorang yang kini telah dewasa. Di depan Pangeran Kecil ia sering dilanda perasaan bingung pada waktu menghadapi seorang anak yang seperti semua anak lainnya hidup di dalam dunia dan pemahaman mereka sendiri.

Kekuatan lain dari pesona abadi Pangeran Kecil adalah hiasan gambar-gambar yang dibuat sendiri oleh Saint-Exupery di sela-sela ceritanya. Gambar-gambar itu begitu khas imajinasi anak-anak dengan tarikan garis pada bunga, ular, bintang, planet, dan padang rumput yang tidak rapi. Belum lagi gambar sang Pangeran Kecil yang berwajah polos dengan rambut berantakan dan selendang lehernya yang berkibar tertiup angin. Semuanya menyatu dengan cerita, dengan penjelasan dari sang pilot yang berulang kali mengingatkan para pembaca bahwa ia tak lagi pandai menggambar! Karena itu pula, ada kalimat, “Aku tidak akan menggambarkan pesawat terbangku di sini karena terlalu sukar” (halaman 14).

Tidak diperlukan pengetahuan ilmiah yang rumit di sini untuk menggambarkan bagaimana seorang “makhluk luar angkasa” seperti Pangeran Kecil bisa berkelana di antara bintang. Ingat, ini adalah cerita anak-anak. Saint-Exupery tidak menempatkan pembacanya untuk bersusah payah memikirkan bentuk teknologi penerbangan antarbintang (hal yang belum terwujud saat cerita ini terbit pertama kali), tapi ia juga tidak mau meremehkan kemampuan berpikir mereka. Maka walau Pangeran Kecil tidak menggunakan pesawat ruang angkasa apa pun, ia juga tidak cuma meloncat ke planet lain. Dengan mengikatkan diri pada sekelompok burung yang berpindah tempat, sang pangeran pun bisa meninggalkan planetnya.

Dibandingkan karya-karyanya yang lain, Pangeran Kecil memang merupakan karya Saint-Exupery yang paling banyak dikenal. Edisi bahasa Indonesia buku ini oleh penerbit Jendela dialihbahasakan dari The Little Prince and A Letter to A Hostage terbitan 2002 oleh Penguin Books, London. Satu catatan mengenai edisi ini, karena diterjemahkan dari sebuah karya terjemahan, hal itu juga menyebabkan mutu terjemahan yang kedua ini kurang terjaga. Terutama bagi mereka yang pernah membaca karya aslinya dalam bahasa Perancis (terbitan Gallimard), seperti ada “rasa” yang kurang dalam cerita ini. Belum lagi terdapat banyak kesalahan penerjemahan yang sebenarnya sepele tapi bisa juga membuat bingung dan kalau dikumpulkan jadi menganggu suasana cerita. Padahal sesungguhnya ini bukan kali pertama Le Petit Prince dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia. Tahun 1979 penerbit Pustaka Jaya pernah menerbitkan Pangeran Kecil dengan cukup berhasil menjaga kelincahan dan kepolosan kisah aslinya, hasil terjemahan Tresnati, Ratti Affandi, Hennywati dan Lolita Dewi yang diedit oleh sastrawan Wing Kardjo (almarhum).

Selain cerita Pangeran Kecil, dalam buku ini dimuat karya lain Saint-Exupery, Surat Kepada Seorang Tahanan, yang pertama kali diterbitkan pada November 1942. Kisah ini bukan fiksi, namun merupakan suatu refleksi pengalaman dan pemikiran Saint-Exupery serta kerinduan pada sahabatnya yang tertahan di Perancis. Ditulis saat ia dalam perjalanan menuju Amerika Serikat melalui Portugal, suasana Perang Dunia II di dataran Eropa sangat terasa, dan sedikit banyak menambah kemuraman pula pada kisah Pangeran Kecil yang telah pergi meninggalkan Bumi di cerita sebelumnya.

Selain masalah ketidakakuratan penerjemahan, ada catatan lain atas penerbitan edisi ini. Di satu sisi, pilihan penerbit Jendela menggabungkan dua karya ini dalam satu terbitan – barangkali mumpung keduanya ada dalam satu edisi bahasa Inggris yang lebih mudah diterjemahkan – tak disengaja menjadikan kisah Pangeran Kecil terkurangi bobotnya sebagai bacaan anak-anak, sebagaimana disiratkan dalam bagian Pendahuluan. Artinya buku ini agaknya bertujuan untuk dibaca dan dipahami oleh pembaca dewasa. Namun di sisi lain, dua karya penulis yang saat kematiannya hingga kini masih diliputi misteri itu, bisa menjadi perbandingan dan renungan kembali bagi pembaca dewasa mengenai makna persahabatan dan memahami keberadaan orang lain.

Dan mungkin juga, sebagai pengingat pada masa kanak-kanak bagi kita yang saat ini merasa sudah dewasa. Seperti Saint-Exupery, kita akan merindukan kepolosan dan ketulusan hati Pangeran Kecil yang dulu pernah kita rasakan. Kita nantinya juga berharap seseorang mengabarkan kedatangan sang Pangeran Kecil, bahwa “…ia telah kembali.”

(Catatan sedikit: Review asli ditulis tahun 2003)