Sang Pahlawan

Oleh Ibrahim Akhmad Isa (Angkatan 5 SMART EI)

Judul buku: Heroes of the Valley (Sang Pahlawan). Pengarang: Jonathan Stroud. Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 2011, tebal 484 halaman.

Halli Sveinsson adalah putra Penguasa Hukum Klan Svein. Ia tinggal di kediaman Klan Svein, salah satu dari 12 klan pahlawan di Lembah. Lembah itu dikelilingi oleh laut di barat, dan pegunungan di utara, barat, dan selatan. Selain kedua belas klan, ada makhluk yang hidup berdampingan dengan mereka, yaitu Trow. Trow adalah makhluk mengerikan yang tinggal di bawah tanah. Mereka memiliki cakar-cakar yang sangat tajam dan gigi-gigi yang menakutkan. Mereka memakan apa saja yang bisa dimakan. Mereka menyeret manusia, ternak,dan lain-lain masuk ke dalam tanah untuk menjadi sntapan mereka. Namun, leluhur dua belas pahlawan berhasil mengusir para Trow dari lembah, membuat mereka lari ke bukit di sekeliling Lembah, dan hidup di rawa-rawa di atas bukit itu dengan taruhan nyawa. Agar para Trow tidak kembali, dibuatlah peraturan di mana semua orang yang mati dimakamkan di sekeliling Lembah agar roh mereka menahan para Trow turun ke Lembah.

Setelah peristiwa itu, orang-orang di Lembah tidak lagi mempraktekkan cara hidup para pahlawan yang lebih mementingkan kekerasan daripada hidup tanpa konflik. Mereka hanya sibuk bertani, beternak, dan lain-lain. Hal ini membuat Halli sangat kecewa. Ia sangat menyukai kisah-kisah lama tentang pahlawan. Ia bahkan bermimpi menjadi pahlawan.

Suatu hari, setelah acara perkumpulan 12 klan yang kebetulan diadakan di kediaman Klan Svein, saudara laki-laki Penguasa Hukum Klan Hakon, Olaf, membunuh paman Halli, Brodir Sveinsson. Halli sangat ingin membunuh Olaf untuk membalas dendam atas kematian pamannya seperti para pahlawan yang biasa melakukannya untuk membalaskan kematian keluarganya. Tentu saja hal itu dilarang seluruh klan. Tetapi, mimpi Halli untuk menjadi pahlawan memotivasinya. Akhirnya, dengan nekat, ia pergi ke kediaman Klan Hakon unutk membunuh Olaf. Ia harus menempuh rute yang sangat panjang karena kediaman Klan Hakon yang berada di ujung sebelah barat Lembah.

Berhasilkah Halli membalaskan kematian pamannya terhadap Olaf? Seperti apa petualangan Halli menjelajahi Lembah? Bagaimana dengan para Trow yang masih ‘menatap’ ke arah Lembah dengan lapar?

Buku ini merupakan buku yang cukup menarik. Latar ceritanya cukup sederhana. Alurnya kurang seru dan memiliki sedikit kejutan. Tetapi ending-nya menarik walaupun agak susah dimengerti. Sampul dan kertas bukunya bagus sehingga memberikan kesan awal yang baik. Buku yang cocok dibaca untuk semua kalangan. Mungkin, jika alur dan latar ceritanya bisa dikembangkan, buku ini bisa menjadi buku yang menarik.

Advertisements

“Excuse-Moi!”

Oleh Genta Maulana Mansyur (Angkatan 6 SMART EI)

Judul buku: Excuse-Moi. Penulis: Margareta Astaman. Penerbit: Kompas, 2011., tebal 180 halaman.

Berbagai suku, ras, agama, dan etnis tersebar di tiga belas ribu lebih pulau di megeri kita tercinta Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke, dari suku Batak sampai suku Dani, dari agama Islam sampai agama Hindu, Budha, Protestan, Katolik dan Konghucu. Dari etnis Melayu sampai etnis Tionghoa.

Perbedaan antara yang mayoritas dan minoritas sudah dirasa berkurang pada garis besarnya. namun ternyata, bagi segelintir minoritas, perbedaan suku, agama, ras dan etnis itu masih ada dan terasa, dan kadang menyakitkan.

Inilah yang dibahas oleh penulis buku unik dengan bahasa ceplas-ceplos pada isu-isu yang membuka mata kita ini. Karena alasan isu yang panas dan dianggap tabu ini pula lah yang mendasarkan Margareta si penulis memberi judul “Excuse-Moi!” yang berarti “permisi” kepada kita pembaca, sebelum kita tersinggung akan isi di dalamnya.

Sebagai minoritas dari sisi agama dan etnis (penulis ada seorang Katolik beretnis Tionghoa), Margie meneriakkan isi hatinya tentang kegundahannya akan kesenjangan sosial yang ia rasa. Meskipun banyak yang mengatakan kesenjangan sosial telah dihapuskan -dalam artian semua orang adalah sama- pada kenyataannya masih tersebar perbedaan perlakuan kepada kaum minoritas (dalam kasus di buku ini, minoritas itu adalah dia sendiri).

Dari momok negatif akan hal-hal yang berbau “Cina: (yang di sini ia elu-elukan sebagai Tionghoa) sampai perpisahannya dengan sahabatnya yang beragama Islam, dikemas secara apik da sangat cocok dibaca oleh semua kalangan.

Kita akan sering dibuat tergelak oleh fakta-fakta yang mungkin masih belum kita ketahui tentang bagaimana perasaan seorang minoritas (bila kita mengaku sebagai mayoritas). Maka kita akan lebih terbuka akan betapa berbedanya dunia nyata yang senyata-nyatanya bagi warga minoritas dengan dunia nyata yang kebanyakan dari kita ketahui secara garis besarnya saja.

Bukan Pasarmalam

Oleh Iyas Abdurrahman (Angkatan 4 SMART EI)

Judul buku: Bukan Pasarmalam. Penulis: Pramudya Ananta Toer. Penerbit Lentera Dipantara, 2006 (pertama kali terbit 1951), tebal 104 halaman.

Jelas ini bukan pasar malam. Juga bukan Pasar Senen, Rebo dan pasar-pasar lainnya. Ini jelas sebuah buku. dan tentu bukan ini yang dimaksud om Pram. Bukan Pasarmalam, sebuah buku dengan ide sederhana: pasarmalam. Siapa yang tidak setuju bahwa pasar malam sederhana?

Kesederhanaan pasarmalam dapat dilihat dari jalan ceritanya. Kisah ‘aku’, seorang perwira yang bermasalah dengan sang bapak. ‘Aku’ yang tinggal jauh dari sang bapak harus kembali ke Blora saat kabar itu datang. Sang bapak terjangkit TBC. Dan secara perlahan, mengalir cerita bapak dan keluarganya: sahaja, ketangguhan, pengorbanan dan kerja keras. Sampai pada akhir cerita, sang bapak pulang ke rumahnya. Sederhana, bukan? 

Bukan Pasarmalam adalah novel Om Pram yang pertama saya baca. Buku ini membuat saya akan terus membaca karya Om Pram yang lain.

Gaya penceritaan yang tidak hiperbola dan analogi membuat novel terasa to the point dan tidak bertele-tele. Pelajaran mengenai makna dan prinsip hidup dapat ditemukan dalam novel ini.

Bacaan yang cocok untuk semua umur! Mengingatkan kita akan pengorbanan seorang ayah. Juga tentang manusia, bahwa tak selalu datang dan pulang bersama-sama bak di sebuah pasarmalam. Bukankah begitu?

33 Pesan Nabi dalam Komik

33 Pesan Nabi - Vbi_djenggoten

33 Pesan Nabi - Vbi_djenggoten

Oleh Yodie Ikhwana (Angkatan 7 SMART EI)

Judul buku: 33 Pesan Nabi. Penulis/penggambar: Vbi_djenggoten. Penerbit: Zaytuna, 2011. Tebal 126 halaman.

Buku ini merupakan buku yang sangat menarik karena ceritanya menjelaskan tentang pesan-pesan Rasulullah SAW. Terlebih, dalam buku ini dilengkapi dengan hadits-hadits dari beliau.

Diterangkan bahwa kita harus bisa menahan nafsu berupa menahan pandangan (mata), pendengaran (telinga) dan perkataan (mulut) dari hal-hal yang tidak baik. Karena jika tidak, maka kita akan terjerumus ke jalan yang sesat.

Salah satu cerita dalam buku ini adalah “Tentang Zina”.

Dari Abu HUrairah r.a., bahwa Nabi SAW bersabda: “Nasib anak Adam mengenai zina telah ditetapkan, tidak mustahil melakukannya.

Dua mata, zinanya memandang. Dua telinga, zinanya mendengar. Lidah, zinanya berkata. Tangan, zinanya memukul. Kaki, zinanya melangkah. Hati, zinanya ingin dan rindu. Sedangkan faraj (kemaluan) hanya mengikuti atau tidak mengikuti” (HR. Muslim).

Sealain ceritanya yang menarik, juga dilengkapi dengan gambar-gambar yang unik.

Mata Golem (Bartimaeus Trilogy #2)

Oleh: Ariansyah (Angkatan 5 SMART EI)

Judul asli: The Golem’s Eye. Pengarang Jonathan Stroud. Penerjemah: Poppy Damayanti Chusfani. Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 2007, tebal 624 halaman.

The Golem’s Eye adalah buku kedua dari serial The Bartimaeus Trilogy. Dalam buku ini diceritakan bagaimana kejamnya politik yang digabungkan dengan intrik-intrik para peyihir. Pengorbanan, keberanian, kesempatan, kepintaran, dan keberhasilan sangat ditonjolkan dalam cerita ini. Misalkan dalam meredakan para pemberontak atau menangkap para pemberontak pemerintahan yang bergerak secara diam-diam, itu harus meggunakan akal yang cerdas untuk bisa menangkap siapa di balik semua ini.

 

Buku kedua ini menceritakan tentang kehidupan John Mandrake dalam pemerintahan di Inggris. Setelah menjadi asisten Menteri Dalam Negeri di Inggris, Mandrake mendapat dua masalah besar. Pertama, ia harus menangani masalah pemberontakan dalam negeri oleh sekelompok orang yang menamakan diri mereka Resistance. Kedua ia harus membongkar rahasia dibalik penghancuran gedung, museum, dll oleh seorang Golem. Yang pertama, Resistance adalah organisasi anti penyihir, yang berarti mereka sangat membenci para penyihir. Mereka harus segera ditangani karena mereka telah banyak merusak fasilitas-fasilitas umum, dan mencuri barang yang berkekuatan sihir dari para penyihir.

 

 

 

Sedangkan untuk masalah kedua, ia harus pergi ke negara di mana pada zaman dahulu adalah musuh pemerintahan Inggris, Ceko. Ia harus bertemu dengan mata-mata Inggris di kota Praha, Harlequin demi kelancarannya mencari informasi tentang Golem. Golem adalah makhluk yang berasal dari tanah liat yang kemudian dihidupkan dengan 2 mantra sihir atau 2 pentacle pemanggil jin. Menurut informasi, terakhir golem digunakan oleh para penyihir di Praha ketika diserbu oleh pasukan Gladstone. Golem yang menjadi benteng terakhir bagi kota Praha, tidak berhasil mempertahankan kota tersebut dan mengakibatkan kota Praha jatuh ke tangan Inggris. Namun, sejak saaat itu tidaka ada lagi yang menggunakan golem dijadikan budak. Sehingga hal ini sangat mengherankan bahwa secara waktu yang tidak bisa ditentukan golem malah datang dan menghancurkan infrastruktur yang ada di kota London.

 

Kelebihan buku ini seri kedua ini adalah dapat membuat kita penasaran akan bagian terakhir dari buku tersebut. Jalan ceritanya juga sangat sulit untuk ditebak karena penulisnya sangat ahli mengolah kata-kata, sehingga pembaca sangat ingin untuk membaca buku tersebut hingga selesai.

Very good!

Amulet Samarkand (Bartimaeus Trilogy #1)

Amulet Samarkand - Jonathan Stroud

 

 

 

 

 

Oleh: Ariansyah (Angkatan 5 SMART EI)

Judul asli: The Amulet of Samarkand. Pengarang Jonathan Stroud. Penerjemah: Poppy Damayanti Chusfani. Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 2007, tebal 511 halaman.

The Bartimaeus Trilogy adalah serial buku fantasi yang menceritakan tentang intrik-intrik dunia dalam politik di negara Inggris. Dalam buku ini, juga menjelaskan bagaimana kegunaan sihir-sihir tersebut untuk dunia politik, kekuatan, kekuasaan, pertahanan negara, menjaga keamanan, berperang, dll.

Dalam buku pertama ini, Amulet Samarkand, dikisahkan seorang anak muda yang mahir dalam dunia sihir, yaitu John Mandrake yang biasa dipanggil Mandrake. Namun, nama asli anak tersebut adalah Nathaniel. Dalam dunia sihir sangat dilarang seorang penyihir untuk memakai nama lahirnya. Mereka harus memakai nama samaran ketika mereka cukup bisa untuk memanggil suatu jin atau afrit. Hal itu dikarenakan agar si jin yang dipanggil tersebut tidak dapat mengutuk atau membunuh penyihir tersebut. Mandrake adalah seorang anak yang dipungut oleh seorang menteri di Inggris. Mr. Underwood. Mandrake diajari berbagai hal mulai dari tata cara menjadi penyihir hingga cara untuk memanggil seekor jin, yang nanti cara tersebut akan di pakai untuk memanggil Bartimaeus jin yang berusia 5000 tahun. Namun, selama Mandrake hidup dengan orang tua angkatnya tersebut, Ia tak pernah merasa bahagia. Yang ada malah rasa dendam yang membuat masternya sendiri nanti mati.

Dikisahkan dalam buku seorang master penyihir yang kejam dan ambisius, Simon Lovelace. Ambisi Simon yang ingin mengambil alih politik di Inggris itu didukung oleh sebuah kekuatan atau benda yang memiliki kekuatan yang besar, yaitu amulet yang berasal dari Samarkand. Amulet berfungsi sebagai pertahanan karena dapat menjaga atau memprotekasi pemakainya dari serangan-serang sihir yang tingkatnya rendah hingga tinggi. Namun, ditengah ambisi untuk melakukan rencana besar tersebut, amulet itu dicuri oleh jin tingkat menengah tetapi mempinuyai banyak pengalaman serta berlidah tajam, Batimaeus.

Mandrake memberi perintah kepada jinnya Bartimaeus untuk mencuri amulet tersebut dari salah seorang master penyihir hebat demi terlaksananya ambisi untuk membalaskan rasa dendam kepada masternya sendiri.

Kelebihan buku ini adalah buku ini mempunyai catatan kaki sangat membantu dalam memahami bacaan ini. Juga cerita dibuat dengan berbagai versi, seperti versi Nathaniel atau versi Bartimaeus sehingga pembaca dapat lebih mudah memahami.

Akhirnya sangat menegangkan dan sulit untuk ditebak (sangat seru!)