Joshua Joshua Tango

Oleh Vera Darmastuti

Judul buku: Joshua Joshua Tango. Penulis: Robert Wolfe. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, September 2008. Tebal 384 halaman.

Jangan terkecoh dengan sampul depan buku ini yang terkesan seperti buku cerita khayalan anak kecil yang tidak punya daya tarik selain kura-kura terbang. Ternyata ini buku anak-anak kontemporer yang dahsyat. Ada mimpi yang menjangkau awan, cinta ayah bunda, kepercayaan dan kebimbangan pada sahabat, juga rasa takut, putus asa dan benci. Semua ada di sekitar kita. 

Aslinya, buku ini menceritakan kehidupan terpencil Marcel Groen, anak SD di Belanda yang ditinggal ibunya bekerja sebagai pekerja sosial di India, sedangkan ayahnya sibuk dengan berbagai penelitian di kampus. Marcel ini bertubuh kecil, berambut keriting, pendiam dan tak pernah diajak main sepakbola walau pun pemain tim sekolah kurang jumlahnya. Sering kali ia dipukuli anak-anak tetangganya, Ed dan Luc yang lebih besar dan bersekolah di SD lain. Kehidupan Marcel hanya berwarna saat di depan komputer kamarnya, memainkan game sepakbola dan menjadi komentator radio khayalan. 

Marcel mendadak punya dunia lain saat Joshua dibawa ayahnya pulang untuk diteliti. Joshua ini kura-kura Brazil yang besar, ditangkap di kampung halamannya karena konon bisa menyanyi dan berbicara. Sepanjang penangkapan Joshua tak mengeluarkan suara apa pun, membuat putus asa para peneliti. Nah, saat hanya di depan Marcel saja kemudian Joshua mengeluarkan kemampuannya. Bersahabat dengan Joshua yang menggandakan huruf “r” saat berbicara ini Marcel belajar untuk menjadi anak yang berani. 

Keberanian Marcel diawali dengan menantang kiper sekaligus kapten tim sepakbola sekolah, Jan-Willem, untuk menendang 5 bola penalti agar bisa diterima sebagai anggota tim. Hasilnya sungguh dahsyat. Si pecundang Marcel bukan hanya berani meminta maaf pada tetangga galak yang kebunnya diacak-acak anak-anak pemain bola. Ia kini berani mengangkat tangan menjawab pertanyaan guru di kelas, menulis surat untuk ibunya di India, menendang balik saat dianiaya Ed dan Luc, dan walau sambil ketakutan, menyusun siasat membebaskan Joshua dan kolonel tua yang diculik gembong penjahat. Bahkan Marcel juga terlibat aktif dalam “pelarian” Duca, seorang anak jago bola asal Kroasia yang sedang mengungsi di Belanda. 

Tapi buku ini bukan hanya mengenai metamorfosis Marcel. Banyak bagian dari buku ini yang begitu emosional manakala Joshua sedang ambil bagian. Kura-kura ini begitu kocak, unik, dan tanpa harus memberi jawaban, semua pertanyaan Marcel bisa tergenapi. Nilai-nilai yang dibawa penyuka milkshake cacing tanah ini sangat menyentuh dan universal. Alasan Joshua hanya buka mulut di depan Marcel bagi saya begitu sempurna: ia hanya ingin pulang kampung kembali ke Brazil berkumpul dengan keluarganya. Jika para peneliti tahu kemampuan spesiesnya bernyanyi lagu opera, berkomunikasi lewat gelombang pikiran, juga terbang dengan tenaga mimpi, itu berarti kiamat bagi semua jenisnya. 

Rasanya bakal sangat panjang jika hal-hal yang menarik dari buku ini saya sebutkan semua. Satu hal yang jelas adalah cara bercerita Robert Wolfe sang pengarang buku ini [catatan pribadi: dia mantan pilot loh! :D] begitu memikat dan mengikat. Bagian berikut ini, misalnya: 

“Apa yang terjadi di sini benar-benar tidak masuk akal, Bapak-bapak dan Ibu-ibu, dalam menit terakhir dua penalti berturut-turut. Saya tidak tahu itu bisa terjadi dan saya tidak tahu apakah memang boleh dilaksanakan, tapi itu betul-betul adil! Bukan main luapan kemarahan kiper tadi. Dan seolah-olah tidak ada apa-apa, Marcel Groen yang kecil itu juga akan melakukan tendangan penalti yang kedua.” 

Kali ini tidak ada suara pukulan pada papan iklan. Tidak ada sorak-sorai, tidak ada teriakan. Semua penonton, semua pemain, Jerry dan semua pendengar, serta seluruh dunia seakan menahan napas. 

Saya juga ikut menahan napas! Sungguh. Walau menggunakan sudut pandang orang ketiga, tapi pembaca bakal merasa menjadi Marcel, anak SD yang awalnya lebih sering memandang dunia dengan cara menunduk karena krisis PD. Belum lagi penggambaran bahwa seminder-mindernya Marcel, ia tetap anak cowok Belanda yang bermimpi bermain sepakbola ditonton banyak orang di lapangan hijau seperti Dennis Bergkamp dengan segala resikonya. Sebagai cerita anak-anak, ujung cerita pun terasa manis, masuk akal dan tidak terjebak pada gaya Hollywood. 

Hoho… sedikit catatan untuk editor, kadang-kadang dobel “r”-nya Joshua tidak konsisten. Tapi itu nggak penting. Yang penting adalah saat membaca buku ini di pojok buku baru yang belum terdata untuk boleh beredar di perpustakaan sekolah, saya sampai berkeliling mewawancarai seorang guru biologi, seorang guru geografi, seorang kepala perpustakaan, dan lima orang siswa, apa istilah yang mereka gunakan untuk benda keras yang ada di punggung kura-kura. Ternyata jawaban mereka beragam: batok, cangkang, sangkar(!), rumah, tempurung, dan sang guru biologi memberi istilah ilmiah yang saya tidak ingat lagi sekarang. 

Jawaban-jawaban itu tidak sama dengan yang ada di buku ini, membuat saya ingin mencari kamus Bahasa Belanda, yang sayangnya tidak ada di perpus kami. Penasaran, apa ya bahasa Belanda untuk benda keras yang ada di punggung kura-kura itu, sehingga di buku ini benda tersebut diterjemahkan sebagai PERISAI.

Advertisements

Belajar Kung Fu Secara Mandiri

PERHATIAN:

Mohon maaf buat kakak-kakak, adik-adik, teman-teman, bapak-bapak, ibu-ibu, dan semua yang bisa membaca, tulisan ini TIDAK BERTUJUAN MEMBERITAHU HARGA ATAU DI MANA BUKU INI BISA DIBELI. Segala komentar tentang pertanyaan di atas tidak akan lagi dikomentari balik.

Jika ingin membeli dan berlatih menggunakan buku ini, silakan cari di toko buku terdekat, atau toko buku online, atau hubungi situs penerbit di www.grahailmu.co.id.

Oleh Aditiya Perkasa (Angk5 SMART EI)

Judul buku: Kung Fu. Penulis: Sugiarto, Faisal Hendrata, Lauw Tjhing Houw, Rachman Soetjandra. Penerbit Graha Ilmu, 2006. Tebal 452 halaman.

Buku yang berjudul “Kung Fu” dan diracik ramai-ramai oleh 4 sekawan ini adalah sebuah buku pedoman wajib bagi para pecinta Kung Fu tanah air.

Dilengkapi dengan ilustrasi yang menarik di setiap bagian jurus dan di setiap judulnya, membuat buku yang satu ini wajib sekali dibaca oleh para Kung Fu mania yang sulit sekali jika membaca buku dengan tulisan saja tanpa ada ilustrasi. Penjelasannya pun mendalam, mulai dari sejarah Kung Fu, variasi dan karakteristik Kung Fu, tempat-tempat penting bagi perkembangan Kung Fu, dimensi spiritual Kung Fu, warnasari Kung Fu, dan yang terpenting adalah 12 jurus dasar Kung Fu pun tersedia pada menu utamanya. Setiap penjelasanya pun mudah untuk dicerna oleh akal kita, tidak rumit dan tidak bertele-tele.

Tanpa guru pun kita bisa saja seperti Bruce Lee, ataupun seperti Jackie Chan. Asalkan, buku “Kung Fu” selalu dibawa dan dipelajari layaknya nyawa kedua kita. Siapapun orangnya, dimanapun tempatnya, dan kapanpun waktunya bisa menikmati buku yang satu ini. Tak ada yang bisa menghalangi anda untuk membacanya. Penulis jamin, anda tak akan menyesal jika membelinya. Malah, anda mungkin akan kembali menganjurkan kepada teman maupun keluarga anda untuk membaca dan mendalami buku ini.

Semesta Mendukung

Oleh Ahmad Rofai (Angk6 SMART EI)

Judul Buku: Semesta Mendukung. Penulis: Ayuwidya. Penerbit: Qanita 2011.

Ditinggal ibu merupakan sebuah siluet kisah yang cukup mengharukan. Ibu yang seharusnya menemani dan mengayomi anaknya harus pergi lantaran (lagi-lagi) masalah ekonomi keluarga. Belum lagi sang ayah yang bermain judi tanpa henti membuatnya terbuai akan iming-iming menang. Well, jika memang begitu, bagaimana dengan si anak?

Semesta Mendukung telah menggambarkan kisah di atas dengan cukup membuat pembaca merasa ‘wah’! Mengapa? Karena di cerita itu tergambar jelas bahwa seorang anak bernama Arif yang ditinggal ibunya (menjadi TKW di Singapura) berusaha untuk kuat dan tegar menjalani kehidupan tanpa sosok seorang ibu.

Ditinggal ibu bukan menjadi sebuah ‘pisau tajam’ yang siap membakar hidupnya malah menjadikannya sebagai ajang untuk membawa ibunya kembali bersamanya.

Dengan bakat fisika yang dia miliki, membawanya untuk mengikuti Olimpiade Fisika Internasional yang kebetulan saat itu diadakan di Singapura. Berbagai rentetan rumus fisika telah ia kuasai, berbagai usaha dan upaya pun telah ia kerahkan semuanya untuk menjadi pemenang.

Dalam prosesnya, berbagai olok-olok telah ia terima dari teman-temannya (Bima dkk) membuatnya menemukan rumus hidup bahwa “Dalam hidup kerja dengan hati” (dari salah seorang penjual ketoprak dekat dengan asrama dia tinggal). Belum lagi kata ‘Mestakung’ (Semesta Mendukung) yang berarti bahwa semesta akan mendukung kita untuk menjadi apa yang kita mau jika kita berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkannya yang sudah ditanam dalam segala usaha hidupnya.

Delapan Cerita dari Penjara Alcatraz

Oleh Agniardi Rhein Prasetyo (Angk8 SMART EI).

Judul buku: Titip Umur di Penjara Alcatraz, 8 Kisah Nyata. Penyunting LR. Supriyanto Yahya. Penerbit PT. Intisari Mediatama, 2007. Tebal 234 halaman.

Jim Quillem seorang pemuda tangguh hidup dengan keluarganya. Namun sayang ayah Jim bukan orang yang dapat mengutarakan kasih sayang sedangkan ibunya pemabuk. Ibu Jim pernah memukul ayah dan meninggalkan mereka.

HIngga ayah pun mendapat kabar tentang ibu, bahawa sanga ibu sedang sekarat. Namun setelah mereka datang, ibu sedang mabuk berat. Ibu diajak pulang oleh ayah. Di rumah, sikap ayah Jim mulai beubah. Ia sering minum-minum dan pulang larut. Lama kelamaan ayah menceraikan ibu. Mereka tinggal di apartemen. Jim mulai sekolah, namun ia banyak menlakukan tindakan kriminal hingga akhirnya dijeblokskan ke dalam penjara. Itu terjadi berkali-kali dan makin lama makin parah tingkat kejahatannya. Akhirnya ia disidang dan mendapat hukuman penjara 45 tahun. Ia dijebloskan ke penjara Alcatraz.

Pada awalnya ia mengikuti semua aturan yang diberlakukan pihak Alcatraz. Ia bekerja menurut apa yang diperintahkan. Selang waktu, ia memiliki keinginan untuk kabur namun bingung akan lewat mana. Ia mendapat teman yang juga ingin kabur, tapi mereka ketahuan. Lain hari mereka sedang berada di sel dengan keadaan normal. Seperti saat makan, biasanya tempat makan para napi dilepas bebas untuk mengambil dan berbincang sambil makan. Di sini tidak jarang ada perkelahian, pembunuhan dan pertengkaran. Hari-hari berikutnya ia mulai kabur melalui lubang pemanas dan berhasil melewatinya sampai di luar sel. Tanpa diduga banyak penjaga di ujung lubang dan ia kembali dihukum. Jim mendapatkan sel dan perlakuan “istimewa” lebih dari yang sebelumnya.

Karena Jim sudah lebih dari setahun tinggal di Alcatraz maka ia bisa mengambil gaji dari bekerja, dan pemotongan masa tahanan. Ia bekerja hingga mendapatkan potongan masa tahanan 5400 hari. Ia bekerja terus hingga mendapatkan semua yang ia harapkan. Hal itu berlangsung sangat lama.

Hingga suatu hari ada enam orang yang ingin kabur. Dikabarkan mereka telah menguasai gudang persenjataan dan membunuh beberapa penjaga. Tapi ternyata mereka hanya membawa pistol saja. Para petugas mulai menenangkan para napi. Hal ini berlangsung beberapa bulan. Kejadian itu berlangsung dengan cepat. Beberapa hari kemudian terjadi konflik antar napi dengan penjaga. Jim mengira semua napi merusak semua peralatan di sel. Ternyata hanya dia yang merusaknya. Ia harus menanggung utang sebanyak 150 dolar AS. Setelah bekerja 18 bulan ia baru bisa melunasinya. Ketika keadaan mulai normal. Jim sudah boleh jalan-jalan. Ia berkenalan dengan “Life-time Murphy”, orangtua yang sudah 26 tahun di sana. Ia mendapat banyak nasehat dari Murphy. Mereka makin akrab dan mulai berbicara tentang keluarga. Jim mulai merindukan keluarganya, sampai suatu hari ia mendapati keluarganya datang dan berbicara dengannya.

Hari itu sungguh berkesan baginya, seperti memotivasinya. Jim bertekad untuk bertobat. Ia menjalani hari-harinya dengan rasa nyaman. Ia tidaj merasakan lamanya hidup di Alcatraz. Akhirnya ia dibebaskan dan menikah dengan seorang wanita bernama Leone. Mereka membuka toko roti dan hidup tenteram dengan penghasilan toko tersebut.

Cerita di atas adalah salah satu cerita dalam buku “8 Kisah Nyata: Titip Umumr di Penjara Alcatraz”. Cerita ini menarik karena seru, banyak hikmahnya. Misalnya ketika ia mencoba kabur dan tidak berhasil, itu serunya. Sedangkan hikmahnya antara lain harus menghormati orangtua dan jangan mencuri.

Dengan demikian buku ini cocok dibaca oleh anak muda. Biasanya anak muda suka film atau cerita yang seru dan digunakan sebagai contoh/ pelajaran supaya tidak suka ikut-ikutan.

Seri “Why?”: Binatang

Oleh Jajang Saputra (Angkatan7 SMART EI)

Judul asli: Pourqoui? Les Animaux. Penulis: Lee Kwang Woong. Penerbit: PT Elex Media Komputindo, 2010. Tebal 160 halaman.

Berawal dari perjalanan  dua orang anak yang bernama Omji dan Komji ditemani oleh bapak guru. Mereka pergi mengisi liburan dengan berpetualang dan mengenali jenis-jenis binatang yang hidup di bumi. Bapak guru mengajak mereka pergi ke hutan dan savana di Afrika yang menjadi tempat awal bagi mereka untuk mempelajari berbagai maca binatang yang ada di daerah tersebut. Namun, sebelum mereka menuju Afrika, bapak guru memberitahu tentang bagaimana asal-usul binatang dan perkembangannya.

Makhluk hidup atau hewan berasal dari proses evolusi yang sangat panjang agar bisa menjadi binatang yang sempurna. Hewan berasal dari makhluk air bersel tunggal kemudian mereka berevolusi terus-menerus sehingga ada zaman yang kita kenal dengan zaman dinosaurus. Dinosaurus sempat bertahun-tahun menguasai bumi namun setelah meeka punah, muncullah jenis-jenis spesies baru dan terus berkembang menjadi binatang seperti sekarang.

Setelah itu pak guru beserta Omji dan Komji mulai melakukan perjalanan ke padang savana di Afrika, hutan hujan tropis, padang gurun dan gunung tinggi.

Setibanya di Afrika, mereka bertemu Bangbangi. Ia adalah seseorang yang mirip Tarzan, tapi ia sangat tahu tentang binatang. Mereka mempelajari hewan yang ada di sana dengan dipandu oleh Bangbangi.

Mereka terus mempelajari binatang, dan akhirnya mereka berpisah dengan Bangbangi karena harus pergi ke hutan hujan tropis. Namun tidak berapa lama kemudian mereka bertemu BUngbungi di hutan hujan tropis. Bungbungi mengajak Omji dan Komji melihat berbagai macam binatang dan memberitahu cara binatang melindungi diri mereka agar tidak terancam.

Bungbungi mengantar mereka sampai akhir tempat yang mereka kunjungi, yaitu di kawasan pegunungan tinggi. Di sana banyak hewan yang hidup, juga ada satu pemburu yang amat ditakuti oleh hewan lain, yaitu harimau putih. Harimau tersebut begitu sigap untuk mencari buruan dan mengikuti ke mana pun buruan yang diincarnya.

Tibalah saat-saat terakhir bagi mereka bersama Bungbungi dan berpisah. Setelah itu pak guru mengajak Omji dan Komji pulang dan beistirahat. Omji dan Komji sangat senang karena liburan kali ini sangat seru dan menyenangkan. Omji yang pintar semakin pintar dan menyayangi binatang, sedangkan Komji yang sangat nakal menjadi penyayang binatang dan tidak mau menyakiti binatang lagi. Setelah mereka mengerti dan paham, pak guru mengajak mereka pulang karena hari sudah mulai malam.

Buku ini dapat menambah pengetahuan tentang mencintai binatang, dan bagaimana cara melindungi serta melestarikan hewan yang mengalami ancaman kepunahan. Isi cerita buku ini sangat bagus dibaca oleh anak-anak karena memberi pengetahuan, namun masih ada kekurangannya, yaitu gambarnya kurang menarik dan menghibur bagi pembaca.

Mengenal Alam Semesta

Oleh Ade Putra Tri Prima (Angkatan8 SMART EI)

Judul buku: Mengenal Alam Semesta. Penyusun: Juwita Ratnasari. Penerbit: Logika Galileo, 2008. Tebal 44 halaman.

Alam semesta adalah tata surya, yaitu kumpulan benda langit. Di ata surya banyak sekali benda-benda langit. Contohnya planet, bulan,,  bintang, hingga galaksi. Di buku ini ada 8 bab yang saling terkait satu sama lain.

Di tata surya ada matahari atau pusat tata surya. Matahari disebut pusat tata surya karena planet-planet mengelilinginya. Matahari sama dengan bumi, yaitu sama-sama memiliki gaya gravitasi. Malah gaya gravitasi matahari lebih berat dari gravitasi bumi, yaitu 28 kalinya. Panasnya kira-kira mencapai 4000-5000 derajat Celcius.

Di tata surya juga ada planet, yaitu suatu bintang yang mempunyai cahaya yang mengelilingi matahari. Jumlah planet di tata surya kita ada 8: Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.

Merkurius paling dekat dengan matahari. Berikutnya adalah Venus yang paling panas. Planet ketiga adalah tempat kita tinggal, yaitu Bumi.  Yangg keempat adalah Mars atau planet Merah. Planet berikutnya adalah Jupiter yang paling besar sehingga disebut planet raksasa. Saturnus adalah planet yang begitu indah karena terdapat cincin yang mengitarinya. Yang ketujuh adalah Uranus, dan Neptunus planet kedelapan adalah planet yang paling sulit dilihat dengan mata telanjang.

Di tata surya juga ada asteroid, meteor dan komet. Asteroid adalah suatu benda yang berwujud seperti batu-batu di tata surya. Asteroid biasanya terdapat di antara planet Mars dan Jupiter. Meteor adalah suatu benda langit yang terbakar dan meluncur cepat ke arah planet. Meteor yang jatuh ke bumi disebut meteorid. Komet seringkali disebut bintang berekor karena ada cahaya yang panjang di belakang komet.

Itulah isi buku ini yang bisa saya ceritakan. Untuk lebih detilnya, silakan baca buku “Mengenal Alam Semesta” ini karena buku ini sangat bagus dan bisa menambah wawasan kita, anak-anak zaman sekarang. Buku ini dapat dinikmati berbagai kalangan, tua dan muda. Alur ceritanya bagus. Pokoknya semuanya bagus. Kalau tidak percaya, anda boleh membuktikannya sendiri.

Cerita Buku Berjudul “2”

Oleh Rofi Muhammad Nur Al-Asad (Angkatan7 SMART EI).

Judul buku: 2. Penulis: Donny Dhirgantoro. Penerbit Grasindo, 2011. Tebal 418 halaman.

Suatu malam di Jakarta tahun 1986, lahir seorang bayi yang sangat besar dibanding bayi-bayi lain. Dia diberi nama Gusni Annisa Puspita. Ketika kakek dan nenek menjenguk bayi Gusni, mereka terkejut melihat cucu bayi mereka berukuran jumbo berbeda dengan anggota keluarga lain. Raut muka kakek berubah drastis mengingat sesuatu yang pernah terjadi.

Malamnya, kakek memberitahu Papa dan Mama Gusni semua yang diketahuinya. Kedua orangtua itu tertunduk dan mama Gusni tak kuasa menahan tangis. Tantangan besar menanti keluarga itu, termasuk buat Gita, kakak Gusni.

Waktu berlalu hingga saat usia Gusni 5 tahu, keluarga itu menyaksikan pertandingan bulutangkis di arena Olimpiade Barcelona melalui televisi.  Betapa senang keluarga tersebut seperti banyak keluarga Indonesia lain  menyaksikan momen emas dimenangkannya pertandingan itu oleh Susi Susanti. Sejak saat itu Gita dan Gusni bertekad membahagiakan keluarga dengan bemain bulutangkis.

Tujuh tahun berlalu. Gusni telah menemukan sahabat setia bernama Harry. Banyak hal menarik mereka lewati bersama. Papa Harry adalah penjual bakmi dan pemilik restoran Bakmi Nusantara yang selalu menebar senyum pada tiap pelanggan. Namun kebahagiaan mereka musnah ketika dalam Kerusuhan Mei 1998, rumah sekaligus restoran keluarga Harry terbakar musnah. Kejadian ini membuat kedua sahabat, Gusni dan Harry, berpisah.

Saat Gusni menginjak usia 18 tahun, Gita kakanya telah menjadi pemain bulutangkis nasional yang terkemuka. Gusni pun mulai berlatih bulutangkis di bawah asuhan Andi Hariyanto Maulana yang juga adalah pelatih Gita. Saat menjalani latihan itu, pengalaman pahit didapat Gusni. Ia jatuh sakit dan diberitahu orangtuanya mengenai kemungkinan hidupnya berakhir seperti salah seorang keluarga mereka, yaitu meninggal saat belum mencapai usia 25 tahun.

Namun Gusni tidak menyerah. Ia yakin bisa menghalau penyakit yang mengancamnya dengan berolahraga membakar kalori dalam tubuhnya. Setiap pagi ia berlari menuju gedung olahraga sebelum berlatih bulutangkis. Namun berat badannya masih belum turun walau ia berlari setiap hari. Gusni tetap tidak menyerah, bahkan kedua temannya Nuni dan Ani ikut berlari bersamanya. Hal yang lebih membuatnya senang adalah Gusni berjumpa kembali dengan Harry, yang bukan saja menerima kenyataan beratnya penyakit Gusni, namun juga meminta Gusni membuka hati untuknya.

Sekian lama berlatih, Gusni berhasil merebut gelar juara dalam pertandingan bulutangkis. Puncaknya, Gusni ikut dalam tim kejuaraan Khatulistiwa Terbuka bersama Gita dan para pemain lainnya. Pertandingan ketat membuat para pemain Indonesia bertarung habis-habisan, menyisakan Gusni dan Gita di final menghadapi pemain Malaysia. Mereka pun berhasil mengantarkan Indonesia ke tangga juara dengan membukukan skor tipis 21-19.

Bagi kamu yang belum membaca buku tentang motivasi dan persahabatan ini, saya sarankan untuk membacanya sendiri. Pokoknya kamu bakal nangis deh… :p

Obelix dan Kawan-kawan

Oleh Fachri Umar (Angkatan7 SMART EI)

Judul asli: Obelix et compagnie. Cerita dan gambar: Rene Goscinny & Albert Uderzo. Penerjemah: A. Rahartati Bambang Haryo. Penerbit Pustaka Sinar Harapan, 1993. Tebal 48 halaman.

Obelix, sahabat Asterix, salah satu tokoh jagoan yang kuat, tetapi sedikit kurang pintar, menjadi tokoh yang selalu menyelamatkan suku Galia dari tentara Romawi. Saat itu Romawi dipimpin oleh Julius Cesar dan selalu kalah bila menghadapi Obelix. Cesar pun mencari cara agar bisa mengalahkan Obelix. Akhirnya ia mendapatkan usul, yaitu agar Obelix dibuat sibuk sehingga ia tidak memikirkan pertempuran dan menjadi lemah.

Cara itu dijalankan oleh seorang pasukan Cesar. Obelix dipersibuk dengan cara seluruh menhir buatannya dibeli oleh Romawi. Siasat itu berhasil. Obelix dan seluruh warga sukunya sibuk membuat batu menhir, kecuali dua orang, yaitu Asterix dan Abraracourcix.

Asterix dan Abraracourcix merasa yang dilakukan oleh para warga sukunya itu hal yang gila, karena dengan memiliki uang hasil penjualan menhir kepada bangsa Romawi membuat mereka merasa menjadi orang terpandang. Di sisi lain, menhir yang menjadi sangat terkenal di kalangan Romawi ternyata menyebabkan kerugian besar dan membuat Cesar menghentikan pembelian itu.

Apa langkah berikutnya yang akan diperbuat Cesar? Akankah suku Galian dan Obelix kali ini bisa dikalahkan? Kalau mau tahu, baca saja bukunya 🙂

Buku ini merupakan buku yang bagus, karena di dalamnya mengajarkan pada kita bahwa uang bukanlah segalanya. Julukan unik untuk buku ini juga pantas disebut karena nama-nama para tokoh di buku ini juga unik jika dipakai di masa sekarang.