Joshua Joshua Tango

Oleh Vera Darmastuti

Judul buku: Joshua Joshua Tango. Penulis: Robert Wolfe. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, September 2008. Tebal 384 halaman.

Jangan terkecoh dengan sampul depan buku ini yang terkesan seperti buku cerita khayalan anak kecil yang tidak punya daya tarik selain kura-kura terbang. Ternyata ini buku anak-anak kontemporer yang dahsyat. Ada mimpi yang menjangkau awan, cinta ayah bunda, kepercayaan dan kebimbangan pada sahabat, juga rasa takut, putus asa dan benci. Semua ada di sekitar kita. 

Aslinya, buku ini menceritakan kehidupan terpencil Marcel Groen, anak SD di Belanda yang ditinggal ibunya bekerja sebagai pekerja sosial di India, sedangkan ayahnya sibuk dengan berbagai penelitian di kampus. Marcel ini bertubuh kecil, berambut keriting, pendiam dan tak pernah diajak main sepakbola walau pun pemain tim sekolah kurang jumlahnya. Sering kali ia dipukuli anak-anak tetangganya, Ed dan Luc yang lebih besar dan bersekolah di SD lain. Kehidupan Marcel hanya berwarna saat di depan komputer kamarnya, memainkan game sepakbola dan menjadi komentator radio khayalan. 

Marcel mendadak punya dunia lain saat Joshua dibawa ayahnya pulang untuk diteliti. Joshua ini kura-kura Brazil yang besar, ditangkap di kampung halamannya karena konon bisa menyanyi dan berbicara. Sepanjang penangkapan Joshua tak mengeluarkan suara apa pun, membuat putus asa para peneliti. Nah, saat hanya di depan Marcel saja kemudian Joshua mengeluarkan kemampuannya. Bersahabat dengan Joshua yang menggandakan huruf “r” saat berbicara ini Marcel belajar untuk menjadi anak yang berani. 

Keberanian Marcel diawali dengan menantang kiper sekaligus kapten tim sepakbola sekolah, Jan-Willem, untuk menendang 5 bola penalti agar bisa diterima sebagai anggota tim. Hasilnya sungguh dahsyat. Si pecundang Marcel bukan hanya berani meminta maaf pada tetangga galak yang kebunnya diacak-acak anak-anak pemain bola. Ia kini berani mengangkat tangan menjawab pertanyaan guru di kelas, menulis surat untuk ibunya di India, menendang balik saat dianiaya Ed dan Luc, dan walau sambil ketakutan, menyusun siasat membebaskan Joshua dan kolonel tua yang diculik gembong penjahat. Bahkan Marcel juga terlibat aktif dalam “pelarian” Duca, seorang anak jago bola asal Kroasia yang sedang mengungsi di Belanda. 

Tapi buku ini bukan hanya mengenai metamorfosis Marcel. Banyak bagian dari buku ini yang begitu emosional manakala Joshua sedang ambil bagian. Kura-kura ini begitu kocak, unik, dan tanpa harus memberi jawaban, semua pertanyaan Marcel bisa tergenapi. Nilai-nilai yang dibawa penyuka milkshake cacing tanah ini sangat menyentuh dan universal. Alasan Joshua hanya buka mulut di depan Marcel bagi saya begitu sempurna: ia hanya ingin pulang kampung kembali ke Brazil berkumpul dengan keluarganya. Jika para peneliti tahu kemampuan spesiesnya bernyanyi lagu opera, berkomunikasi lewat gelombang pikiran, juga terbang dengan tenaga mimpi, itu berarti kiamat bagi semua jenisnya. 

Rasanya bakal sangat panjang jika hal-hal yang menarik dari buku ini saya sebutkan semua. Satu hal yang jelas adalah cara bercerita Robert Wolfe sang pengarang buku ini [catatan pribadi: dia mantan pilot loh! :D] begitu memikat dan mengikat. Bagian berikut ini, misalnya: 

“Apa yang terjadi di sini benar-benar tidak masuk akal, Bapak-bapak dan Ibu-ibu, dalam menit terakhir dua penalti berturut-turut. Saya tidak tahu itu bisa terjadi dan saya tidak tahu apakah memang boleh dilaksanakan, tapi itu betul-betul adil! Bukan main luapan kemarahan kiper tadi. Dan seolah-olah tidak ada apa-apa, Marcel Groen yang kecil itu juga akan melakukan tendangan penalti yang kedua.” 

Kali ini tidak ada suara pukulan pada papan iklan. Tidak ada sorak-sorai, tidak ada teriakan. Semua penonton, semua pemain, Jerry dan semua pendengar, serta seluruh dunia seakan menahan napas. 

Saya juga ikut menahan napas! Sungguh. Walau menggunakan sudut pandang orang ketiga, tapi pembaca bakal merasa menjadi Marcel, anak SD yang awalnya lebih sering memandang dunia dengan cara menunduk karena krisis PD. Belum lagi penggambaran bahwa seminder-mindernya Marcel, ia tetap anak cowok Belanda yang bermimpi bermain sepakbola ditonton banyak orang di lapangan hijau seperti Dennis Bergkamp dengan segala resikonya. Sebagai cerita anak-anak, ujung cerita pun terasa manis, masuk akal dan tidak terjebak pada gaya Hollywood. 

Hoho… sedikit catatan untuk editor, kadang-kadang dobel “r”-nya Joshua tidak konsisten. Tapi itu nggak penting. Yang penting adalah saat membaca buku ini di pojok buku baru yang belum terdata untuk boleh beredar di perpustakaan sekolah, saya sampai berkeliling mewawancarai seorang guru biologi, seorang guru geografi, seorang kepala perpustakaan, dan lima orang siswa, apa istilah yang mereka gunakan untuk benda keras yang ada di punggung kura-kura. Ternyata jawaban mereka beragam: batok, cangkang, sangkar(!), rumah, tempurung, dan sang guru biologi memberi istilah ilmiah yang saya tidak ingat lagi sekarang. 

Jawaban-jawaban itu tidak sama dengan yang ada di buku ini, membuat saya ingin mencari kamus Bahasa Belanda, yang sayangnya tidak ada di perpus kami. Penasaran, apa ya bahasa Belanda untuk benda keras yang ada di punggung kura-kura itu, sehingga di buku ini benda tersebut diterjemahkan sebagai PERISAI.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s