Kisah Sepucuk Angpau Merah di Tepian Kapuas

Oleh Rofi Muhammad Nur Al-Asad (Angkatan7 SMART EI)

Judul buku: Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah. Penulis Tere Liye. Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Januari 2012. Tebal 512 halaman.

“Ada tujuh milyar penduduk bumi saat ini. Jika separuhnya saja mereka pernah jatuh cinta, setidaknya akan ada satu milyar lebih cerita cinta. Akan ada setidaknya lima kali dalam setiap detik, 300 kali dalam semenit, 18.000 kali dalam setiap jam, dan nyaris setengah juta sehari semalam, seseorang entah dari belahan dunia mana, berbinar, harap-harap cemas, gemetar, malu-malu menyatakan perasaannya.”

Tulisan di belakang bukunya aja, entah sinopsis atau apalah namanya, sudah keren banget. Covernya menarik. Judunya juga bikin penasaran. Dan ceritanya… tidak usah ditanya lagi…

Yah… mungkin aku akan melanggar kalimat yang ada di belakang buku ini: “Kita tidak memerlukan sinopsis untuk memulai cerita ini”. Aku nggak bisa menahan diri untuk menceritakan sedikit bocoran tentang cerita dalam buku ini.
Ini cerita tentang seorang bujang bernama Borno yang disebut-sebut sebagai ‘orang yang berhati paling lurus di sepanjang tepian Kapuas’. Kurasa menceritakan orang yang lurus-lurus aja nggak ada serunya, bukan? Tapi syukurlah karena cerita ini diwarnai dengan kedatangan seorang tokoh yang bisa membangkitkan emosi siapa saja, namanya Mei, seorang perempuan yang dijuluki ‘sendu menawan’ oleh orang-orang di Gang Sepit. Gadis cantik keturunan Cina itu ternyata bukan hanya gadis cantik biasa, tapi ada satu hal yang membuatnya kembali ke Pontianak dan sengaja menjatuhkan amplop merah berisi dua lembar surat di sepit Borno.

Sayang sekali karena setelah menduga bahwa itu hanya angpau biasa yang juga Mei bagikan untuk orang lain, dia malah hanya menyimpannya hingga akhir cerita ini. Karena akhirnya dengan sangat terlambat Borno membaca isi surat itu dan mengetahui alasan kenapa Mei menjauh darinya. Padahal sebelumnya mereka sudah sangat dekat.

Dan akhirnya cerita berakhir sesuai harapan pembaca… Borno dan Mei hidup bahagia…

Aku sangat berharap reviewku ini tidak lengkap, dan kuharap kau penasaran dan akhirnya membeli buku ini. Aku tidak ‘berharap’ kalian menyukai ceritanya, karena dari awal aku sudah yakin kalian pasti nmenyukainya, tanpa repot-repot aku berharap. (Ngerti nggak?? Emang gak jelas sih.. 🙂 )

Advertisements

7 thoughts on “Kisah Sepucuk Angpau Merah di Tepian Kapuas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s