Bukan Pasarmalam

Oleh Iyas Abdurrahman (Angkatan 4 SMART EI)

Judul buku: Bukan Pasarmalam. Penulis: Pramudya Ananta Toer. Penerbit Lentera Dipantara, 2006 (pertama kali terbit 1951), tebal 104 halaman.

Jelas ini bukan pasar malam. Juga bukan Pasar Senen, Rebo dan pasar-pasar lainnya. Ini jelas sebuah buku. dan tentu bukan ini yang dimaksud om Pram. Bukan Pasarmalam, sebuah buku dengan ide sederhana: pasarmalam. Siapa yang tidak setuju bahwa pasar malam sederhana?

Kesederhanaan pasarmalam dapat dilihat dari jalan ceritanya. Kisah ‘aku’, seorang perwira yang bermasalah dengan sang bapak. ‘Aku’ yang tinggal jauh dari sang bapak harus kembali ke Blora saat kabar itu datang. Sang bapak terjangkit TBC. Dan secara perlahan, mengalir cerita bapak dan keluarganya: sahaja, ketangguhan, pengorbanan dan kerja keras. Sampai pada akhir cerita, sang bapak pulang ke rumahnya. Sederhana, bukan? 

Bukan Pasarmalam adalah novel Om Pram yang pertama saya baca. Buku ini membuat saya akan terus membaca karya Om Pram yang lain.

Gaya penceritaan yang tidak hiperbola dan analogi membuat novel terasa to the point dan tidak bertele-tele. Pelajaran mengenai makna dan prinsip hidup dapat ditemukan dalam novel ini.

Bacaan yang cocok untuk semua umur! Mengingatkan kita akan pengorbanan seorang ayah. Juga tentang manusia, bahwa tak selalu datang dan pulang bersama-sama bak di sebuah pasarmalam. Bukankah begitu?

Advertisements