Semesta Mendukung

Oleh Ahmad Rofai (Angk6 SMART EI)

Judul Buku: Semesta Mendukung. Penulis: Ayuwidya. Penerbit: Qanita 2011.

Ditinggal ibu merupakan sebuah siluet kisah yang cukup mengharukan. Ibu yang seharusnya menemani dan mengayomi anaknya harus pergi lantaran (lagi-lagi) masalah ekonomi keluarga. Belum lagi sang ayah yang bermain judi tanpa henti membuatnya terbuai akan iming-iming menang. Well, jika memang begitu, bagaimana dengan si anak?

Semesta Mendukung telah menggambarkan kisah di atas dengan cukup membuat pembaca merasa ‘wah’! Mengapa? Karena di cerita itu tergambar jelas bahwa seorang anak bernama Arif yang ditinggal ibunya (menjadi TKW di Singapura) berusaha untuk kuat dan tegar menjalani kehidupan tanpa sosok seorang ibu.

Ditinggal ibu bukan menjadi sebuah ‘pisau tajam’ yang siap membakar hidupnya malah menjadikannya sebagai ajang untuk membawa ibunya kembali bersamanya.

Dengan bakat fisika yang dia miliki, membawanya untuk mengikuti Olimpiade Fisika Internasional yang kebetulan saat itu diadakan di Singapura. Berbagai rentetan rumus fisika telah ia kuasai, berbagai usaha dan upaya pun telah ia kerahkan semuanya untuk menjadi pemenang.

Dalam prosesnya, berbagai olok-olok telah ia terima dari teman-temannya (Bima dkk) membuatnya menemukan rumus hidup bahwa “Dalam hidup kerja dengan hati” (dari salah seorang penjual ketoprak dekat dengan asrama dia tinggal). Belum lagi kata ‘Mestakung’ (Semesta Mendukung) yang berarti bahwa semesta akan mendukung kita untuk menjadi apa yang kita mau jika kita berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkannya yang sudah ditanam dalam segala usaha hidupnya.

Advertisements

“Excuse-Moi!”

Oleh Genta Maulana Mansyur (Angkatan 6 SMART EI)

Judul buku: Excuse-Moi. Penulis: Margareta Astaman. Penerbit: Kompas, 2011., tebal 180 halaman.

Berbagai suku, ras, agama, dan etnis tersebar di tiga belas ribu lebih pulau di megeri kita tercinta Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke, dari suku Batak sampai suku Dani, dari agama Islam sampai agama Hindu, Budha, Protestan, Katolik dan Konghucu. Dari etnis Melayu sampai etnis Tionghoa.

Perbedaan antara yang mayoritas dan minoritas sudah dirasa berkurang pada garis besarnya. namun ternyata, bagi segelintir minoritas, perbedaan suku, agama, ras dan etnis itu masih ada dan terasa, dan kadang menyakitkan.

Inilah yang dibahas oleh penulis buku unik dengan bahasa ceplas-ceplos pada isu-isu yang membuka mata kita ini. Karena alasan isu yang panas dan dianggap tabu ini pula lah yang mendasarkan Margareta si penulis memberi judul “Excuse-Moi!” yang berarti “permisi” kepada kita pembaca, sebelum kita tersinggung akan isi di dalamnya.

Sebagai minoritas dari sisi agama dan etnis (penulis ada seorang Katolik beretnis Tionghoa), Margie meneriakkan isi hatinya tentang kegundahannya akan kesenjangan sosial yang ia rasa. Meskipun banyak yang mengatakan kesenjangan sosial telah dihapuskan -dalam artian semua orang adalah sama- pada kenyataannya masih tersebar perbedaan perlakuan kepada kaum minoritas (dalam kasus di buku ini, minoritas itu adalah dia sendiri).

Dari momok negatif akan hal-hal yang berbau “Cina: (yang di sini ia elu-elukan sebagai Tionghoa) sampai perpisahannya dengan sahabatnya yang beragama Islam, dikemas secara apik da sangat cocok dibaca oleh semua kalangan.

Kita akan sering dibuat tergelak oleh fakta-fakta yang mungkin masih belum kita ketahui tentang bagaimana perasaan seorang minoritas (bila kita mengaku sebagai mayoritas). Maka kita akan lebih terbuka akan betapa berbedanya dunia nyata yang senyata-nyatanya bagi warga minoritas dengan dunia nyata yang kebanyakan dari kita ketahui secara garis besarnya saja.

Berkelana di Alam Fantasi (Fantasy Fiesta 2010)

Oleh Ahmad Zuhhad Abdillah (Angkatan 6 SMART EI)

Judul buku: Fantasy Fiesta 2010, Antologi Cerita Fantasi Terbaik 2010. Penulis: RD. Villam, Klaudiani, Bonmedo Tambunan, dkk. Penerbit, Adhika Pustaka, 2010, tebal 280 halaman.

Raja terakhir negero Rythma, Maximilian telah meninggal. Joanna dan Mikael, dua kakak beradik ahli waris takhta negeri Ryrhma bertarung untuk memprebutkan takhta negeri itu, negeri di mana sihir musik dan lagu berkuasa. Dan sihir gerakan yang mengubahnya menjadi menarik bagi yang memandang dan melupakan musik dan lagu itu sendiri.

Joanna dan Mikael adalah dua penyijir gerakan, pemimpin prajurit penyanyi dan pemusik yang paling mahir di negeri itu. Karena itu, rakyat terbagi dan saling bertarung. Pertarungan sihir musik, lagu dan gerak ini membuat alam murka dan mengirim awan gelap yang menutupi seluruh langit Rythma.

Untuk menghilangkan kegelapan dari Rythma diperlukan ritual sihir kuno “cha-cha” dan “jiven” yang konon bisa meredakan amarah alam. Setelah ritual itu dilaksanakan, alam pun kembali damai, namun Joanna kemudia membunuh Mikael untuk menjadi pemimpin Rythma.

Sejak saat itu Joanna menjadi ratu Rythma. Walau sudah mencapai tujuannya, Joanna merasa ada yang kurang dalam hidupnya. Tak ada lagi yang bisa diajak melakukan ritual-ritual dengan baik karena tak ada lagi yang bisa menandinginya selain sang kakak, Mikael.

“Rythma” adalah salah satu cerita dalam antologi cerita pendek fantasi ini. Masih ada beragam cerita dengan tema dan gaya cerita yang berbeda. Ada beberapa cerita yang menurut saya susah dipahami akhir ceritanya. Misalnya “Hujan” dan “Apollyon”. Tapi masih lebih banyak yang bisa dipahami, dan menurut saya benar-benar bagus.

Tetap saja, antologi cerita fantasi ini fantastis!

Pemangsa Arwah di Zaman Es

 

Oleh Genta Maulana Mansyur (Angkatan 6 SMART EI)

Judul buku: Ghost Hunter (Chronicle of Ancient Darkness #6). Penulis: Michelle Paver. Penerjemah: Mario Nugraha. Penerbit Matahati, 2011, tebal 350 halaman.

Kisah penutup dari seri Chronicles of Ancient Darkness di mana Torak sebagai aktor utama harus menghadapi Eostra, satu-satunya Pemangsa Arwah yang tersisa dan terkenal di antara semua Pemangsa Arwah. Ditambah lagi, keberadaan batu baiduri api di cengkeramannya membuat ia menjadi tak terkalahkan.

Hanya satu hal lagi yang Pemangsa Arwah itu butuhkan untuk meguasai dunia: keahlian klanaroh yang dimiliki Toraj! Ia mengirim mimpi-mimpi buruj dan teror berupa ngengat dan burung hantu rajawali jahat sebagai cara agar Torak berpisah dari teman dan kerabatnya.

Bukannya takut akan segenap teror tersebut, Torak malah merasa tertantang untuk mendatangi sang Pemangsa Arwah dengan alasan takdirnya ada pada pertemuan mereka. Apakah ia akan mati? Atau ia akan tetap hidup dengan mengalahkan sang Pemangsa Arwah.

Tentu saja Renn merasa bahwa perasaan Torak merupakan hasil dari tipu daya dan pengaruh buruk Eostra. Namun tetap, Torak telah terpengaruh begitu dalam sehingga ia nekat meninggalkan Renn, bahkan saudara sekawannya Serigala untuk menemui Eostra di pegunungan Para Arwah.

Tibalah Eostra merasa harus menyingkurkan oengganggu rencananya dengan menambah intensitas teror dan kecaman. Renn berpisah dengan Torak sampai ia bertemu dengan Kelam sang bocah gunung penolong Renn untuk menyelamatkan Torak sampai akhirnya mereka bisa memenagkan pertarungan.

Seperti judulnya, sebagai penutup, buku ini tidak bisa dijadikan main course karena dinilai kurang memuaskan pembaca yang menunggu-nunggu klimaks sensasional Paver. Bagian klimaksnya yang sedikit membuatnya tidak bisa disejajarkan sebagai santapan pengisi kapar klimakas pembaca buku lainnya di seri ini. Namun bila Anda memang bersikukuh ingin mengetahui akhir dari perjalanan Torak dalam membunuh para pengasa Arwah, buku ini bisa dibaca sebagai pengisi waktu luang. Akan sangat rugi apabila kita menyisakan waktu khusus untuk menyantapnya. Ini hanya dessert, santapan penutup sekelas snack.

The Necromancer (The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel #4) – Ver.1

Oleh Ahmad Zuhhad Abdillah (Angk6 SMART EI)

Pengarang: Michael Scott. Penerjemah: M. Baihaqqi. Diterbitkan oleh Penerbit Matahati, Januari 2011, tebal 492 halaman.

Josh dan Sophie Newman yang merupakan kembar pemilik aura perak dan emas bersama pasangan Flamel kini kembali ke San Fransisco. Misi awal untuk merebut Codex dari Dee, musuh bebuyutan pasangan Flamel, kini berubah menjadi misi menyelamatkan dunia dengan mengalahkan monster-monster di Alcatraz. Sebelum itu Josh harus berguru kepada Prometheus untuk bisa mengendalikan elemen api.

Sementara itu, Dee yang tidak berhasil mengangkap pasangan Flamel dan si kembar Newman, kini menjadi buronan. Dia dikejar-kejar oleh para tetua dan makhluk lainnya, tapi dia berhasil mengumpulkan empat pedang legendaris, yaotu Joyeuse, Durendal, Excalibur dan Clarent. Dia berniat memanggil sang induk dari segala dewa, Coatlicue untuk menghancurkan para tetua dengan keempat pedang itu. Dee dan Virginia Dare sekutunya, mengendalikan Josh dan menjadikan Josh umpan untuk Coatlicue.

Di tempat lain, Scatach dan Joan d’Arc yang semula berpikir berada di masa dinosaurus, menyadari ternyata itu adalah alam bayangan. Bersama Saint-Germain, Shakespeare dan Palimedes, mereka dibawa oleh pemilik alam bayangan itu, Marethyu kembali ke masa Danu Talis jatuh untuk menghancurkan Danu Talis agar manusia bisa tercipta.

Di saat yang sama pasangan Flamel harus berjuang sendiri bersama Sophie untuk menyelamatkan dunia dan Josh dari tangan Dee dengan empat pedangnya atau para Tetua Gelap karena waktu nereka muncul semakin dekat.

Buku ini benar-benar bagus. Penulis seperti membuat oara pembaca melihat seluruh cerita buku ini. Buku ini berhasil menggabungkan mitologi dan fantasi sendiri ditambah fakta asli ilmiah menjadi benar-benar pas dan seperti nyata. Pantas menjadi best-seller versi New York Times.

Tempat Gunung Berjumpa Rembulan (Where the Mountain Meets the Moon) – Ver.1

 

Oleh Ahmad Zuhhad Abdillah (Angk6 SMART EI).


 

Judul Asli: Where the Mountain Meets the Moon. Penulis: Grace Lin. Penerbit: Atria, 2010. 266 halaman.


 

Minli adalah gadis kecil yang dilahirkan dari orangtua yang tidak mampu. Mereka tinggal di sebuah desa di dekat sebuah gunung bernama Gunung Nirbuah. Gunung, desa dan Sungai Gio di dekatnya, sangat bernuansa kemiskinan dan kegersangan. Namun Minli berbeda, dia memiliki wajah berseri-seri karena sering diceritakan kisah-kisah oleh ayahnya.


 

Suatu hari Minli membeli seekor ikan mas yang dianggapnya bisa membawa keberuntungan ke rumahnya. Ternyata ikan mas itu bisa bicara, ia memberitahu Minli cara menemui Kakek Rembulan yang bisa menjawab semua pertanyaan karena sang kakek memiliki Kitab Peruntungan. Maka dengan niat yang teguh, ia memulai perjalanan dengan ditemani seekor naga yang tidak bisa terbang, ke tempat Kakek Rembulan berada. Dalam perjalanan itu mereka bertemu dengan tokoh-tokoh dalam kisah yang diceritakan ayah Minli, Ada Harimau Hijau, jelmaan Hakim Harimau yang jahat; suatu keluarga yang berbahagia; Wukang yang tidak pernah puas; sang Dewi Pemintal; dan akhirnya Kakek Rembulan sendiri.


 

Buku ini penuh berisi dongeng-dongeng dari Cina yang diubah. Bahasanya mudah dipahami dan ada ilustrasi yang menarik. Buku ini juga memberi kita pelajaran untuk menerima apa yang telah kita dapatkan.

 

 

Meniti Bianglala (The Five People You Meet In Heaven)

Oleh Genta Maulana Mansyur (SMART EI Angk.6)

Judul asli: The Five People You Meet in Heaven. Penulis: Mitch Albom. Penerjemah: Andang H. Sutopo. Terbitan PT. Gramedia Pustaka Utama, 2007, 204 halaman.

 

Pembayangan surga yang sangat berbeda dengan apa yang telah kita ketahui mewarnai buku ini. Versi yang digambarkan di buku ini oleh pengarangnya merupakan sebuah dugaan, harapan, agar orang-orang lain yang menganggap keberadaan mereka di dunia ini tidak penting, menyadari betapa mereka sangat berarti dan disayangi.

 

 

Kematian Edward (Eddie) yang tragis yang digambarkan melalui countdown sisa waktu hidupnya yang sangat menggetarkan jiwa sebagai permulaan buku ini. Hari itu sebagaimana biasanya, ia menjalankan tugas rutinnya memperbaiki wahana permainan di taman hiburan tanpa tahu itulah jam-jam terakhir hidupnya.

 

 

Saat ia di akhirat yang sama sekali berbeda dengan bayangannya, ia dihadapkan dengan seorang manusia aneh berkulit biru yang mengakui bahwa ia meninggal karena Eddie kecil bermain lempar bola di jalan. Bola itu jatuh ke jalan aspal di mana si Orang Biru yang penggugup sedang menyetir mobilnya. Pria itu kaget dan menjadi gugup saat Eddie berlari mengambil bola. Ia membanting setir dan akhirnya meninggal. Namun yang Eddie tahu ia telah mendapatkan bolanya.

 

 

Si Orang Biru pun menjelaskan bahwa di akhirat ini Eddie akan bertemu lima orang yang berbeda dengan lima pelajaran yang berbeda. Si Orang Biru itu adalah “orang pertama” Eddie dengan pelajaran pertamanya: tidak ada kejadian yang terjadi secara acak, karena pasti akan berhubungan dengan orang lain atau hal lain. Dan bahwa keadilan tidak akan mengukur mati dan hidup karena bila keadilan yang mengatur, maka tidak akan ada orang yang mati muda.

 

 

Orang kedua” Eddie adalah kaptennya saat di medan Perang Dunia II di Filipina dengan pelajaran kedua: kadang-kadang, kalau kita mengorbankan sesuatu yang berharga, kita tidak sungguh-sungguh kehilangannya, namun hanya meneruskannya kepada orang lain. 

 

 

Orang ketiga”-nya adalah seorang wanita penjaga bar dengan pelajaran ketiga: menyimpan marah adalah racun. Marah menggerogoti diri kita dari dalam. Kadang kita mengirakebencian merupakan senjata untuk menyerang orang yang menyakiti kita. Tapi kebencian adalah pedang bermata dua, dan luka yang kita buat dengan pedang itu kita lakukan kepada diri kita juga.

 

 

Orang keempat”-nya adalah isterinya sendiri, Marguerite. Pelajaran keempat darinya adalah: cinta yang hilang tetaplah cinta, hanya bentuknya saja yang berbeda. Kita tidak bisa terus melihat orang yang kita cintai; senyumnya, membawakan makanan untuknya, memeluknya atau menciumnya. Tapi ketika indra manusia melemah, ada indra lain yang menguat: kenangan menjadi cinta itu sendiri. Kehidupan memang harus berakhir, tapi cinta tidak.

 

 

Orang terakhir”-nya adalah seorang gadis kecil yang ditinggalkan Eddie terbakar di rumahnya di Filipina. Pelajaran terakhirnya adalah: walau kadang kita merasakan kehidupan kita begitu tidak berguna, ternyata hal-hal yang kita lakukan itu berguna bagi orang lain. Dan setiap kehidupan itu pasti mempengaruhi kehidupan berikutnya, berikutnya, dan berikutnya, dan semua kisah kehidupan itu adalah satu.

 

 

Buku ini sangat renyah dibaca dalam menghadapi situasi kesedihan atau kekalahan karena pesan-pesan (pelajaran) moralnya mengajarkan kita bahwa hidup itu sangat berarti. Janganlah kita menyia-nyiakannya dengan larut dalam kesedihan, kepedihan dan penyesalan.

 

Dengan bahasa yang “mudah”, buku ini pasti bisa dibaca semua kalangan, tua atau muda. Kita pun tak akan menyesal membacanya, karena bila kesedihan melanda kembali, bukalah buku ini dan kita takkan merasa bosan akan isi di dalamnya.

The Wizard of Oz – Ver.1

 


Oleh Ahmad Zuhhad Abdillah (Angk6 SMART EI).

Penulis: L. Frank Baum. Penerbit Atria, November 2010. 206 halaman.

 

Dorothy adalah seorang gadis periang yang tinggal di padang rumput Kansas yang serba kelabu. Dia tinggal bersama Paman Henry dan Bibi Em. Suatu ketika rumanhya diterbangkan angin puting beliung bersama Dorothy dan Toto, anjingnya. Mereka terdampar di negeri Oz yang permai, namun demikian Dorothy tetap ingin pulang.

 

Di negeri Oz itu terdapat lima orang penyihir. Pertama adalah penyihir timur yang jahat, lalu penyihir utara yang baik, penyihir barat yang jahat, penyihir dari selatan yang baik serta Oz yang menyebut dirinya sendiri Penyihir Agung. Dorothy harus pergi menemui Oz agar bisa pulang. Maka dimulailah petualangan Dorothy dan Toto yang kemudian ditemani oleh Boneka Jerami yang ingin punya otak, Tin Woodman yang ingin punya hati, dan Singa Penakut yang ingin punya keberanian untuk menemui Oz.

 

Cerita buku ini bagus, pantas menjadi cerita yang melegenda. Ilustrasinya juga bagus, seperti nyata. Ceritanya nyambung walau Dorothy berasal dari dunia nyata bertualang di dunia dong eng. Kata-katanya juga mudah dipahami, jadinya bisa dibaca semua umur.

Ranah 3 Warna


Penulis: A. Fuadi. Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2010. 473 halaman.

Buku ini lanjutan dari buku Negeri Lima Menara. Setelah sang tokoh utama Alif menyelesaikan pendidikannya di Pondok Madani, cobaan untuk melanjutkan menuntut ilmu datang bertubi-tubi. Mulai dari tidak adanya ijazah SMA, pelajaran SMA yang harus dikejar, dan susahnya masuk universitas. Di samping banyak saingan, juga karena ekonomi keluarganya yang lemah. Dimotivasi oleh tim sepakbola Denmark yang bisa memenangkan Piala Eropa, akhirnya Alif berhasil lulus masuk Universitas Padjadjaran Jurusan Hubungan Internasional.

 Seakan belum cukup cobaan yang Allah berikan, Alif kembali mendapat cobaan. Ayahnya meninggal dunia. Alif yang kemudian menjadi kepala keluarga, harus berjuang meringankan beban ibunya dan untuk membiayai kuliahnya sendiri. Saat Alif mulai putus asa, dia mendapat mantra baru: Man shabara zhafira: siapa yang bersabar, dia akan beruntung. Dengan mantra itu ditambah mantra sebelumnya, Man jadda wa jada, akhirnya Alif berhasil mewujudkan mimpinya menjejak benua Amerika.

Di dalam buku ini ada nuansa-nuansa cinta yang bisa sedikit menghibur. Buku ini juga berhasil membawa pembaca ke tiga tanah berbeda. Kata-kata di buku ini juga mudah dipahami. Jadi buku ini benar-benar… mengagumkan.

 

Diringkas oleh Ahmad Zuhhad Abdillah (Angk.6 SMART EI).


Terlibat di Mahakam (Sandi #3)

 

 


Oleh Ahmad Zuhhad Abdillah (Angk6 SMART EI)

Penulis: Dwianto Setyawan. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, 1985. 220 halaman.

 

Kalimantan Timur adalah lokasi tempat Kerajaan Kutai dan Kerajaan Kutai Kartanegara berdiri. Kerajaan Kutai Kartanegara bercorak Islam, dengan lambang kerajaan berupa Lembu Suana, yang merupakan bentuk campuran dari hewan gajah, kuda, garuda dan naga.

 

Saat ini di Kalimantan Timur baru terjadi pencurian Lembu Suana mini, yaitu patung emas kecil tiruan dari Lembu Suana. Konon umur tiruan ini sudah seratus tahun dan dulu dibuat oleh seorang bangsawan Kutai Kartanegara. SANDI yang sedang berlibur di Kalimantan Timur mengetahui tentang hal ini dan kemudian membantu polisi dan Bung Baul Adam, seseorang yang dituduh merampok, untuk menangkap pencuri Lembu Suana mini.

 

Petualangan SANDI ini, menurut saya, lebih seru daripada petualangan yang lain. Kata-katanya pun lebih nyata dibanding dalam buku sebelumnya.