Identitas Buku Hitam

​<a href=”https://www.goodreads.com/book/show/31253494-the-black-book&#8221; style=”float: left; padding-right: 20px”><img border=”0″ alt=”The Black Book” src=”https://images.gr-assets.com/books/1469602892m/31253494.jpg&#8221; /></a><a href=”https://www.goodreads.com/book/show/31253494-the-black-book”>The Black Book</a> by <a href=”https://www.goodreads.com/author/show/1728.Orhan_Pamuk”>Orhan Pamuk</a><br/>

My rating: <a href=”https://www.goodreads.com/review/show/1750774896″>4 of 5 stars</a><br /><br />

So the story of Celal is the other story of Galip, and that’s also the story of my past.<br><br>Maaf, buku yang perlu sebulan lebih untuk saya selesaikan membacanya ini malah bikin saya bernostalgia. Sementara saya belum akan membuat review atas buku ini, tapi cerita dulu. Mumpung saya ingat dan sadar akan siapa diri saya.<br><br>Maksudnya? Saya juga -sekian belas tahun lalu- pernah jadi penulis kolom di sebuah mingguan. Dua mingguan mungkin lebih tepat, karena bergantian dengan bos saya, pemred yang sebelumnya jarang banget menulis selain tugas2 kuliahnya. Abang pemred ini sebenarnya seleb lapangan aksi reformasi ’98, ga punya latar belakang jurnalistik, jadi beliau dapat jatah menulis kolom aja. Mustinya sih dia harus menulis tiap minggu. Namun karena si abang pemred masih susah membiasakan diri dikejar tenggat menulis, maka sebagai redpel (walau belum punya ijazah sarjana), selain melakukan koordinasi tugas para redaktur saya juga ketiban tanggungjawab sebagai penyedia tulisan kolom yang sama, bergantian dengan si abang.<br><br>Menulis kolom itu buat saya -saat itu- bukan hal yang susah. Seputar “kepanikan kiamat” pada 9-9-99 (kalau ada yang ingat, berarti seangkatan dengan saya), tepat hari itu saya datang ke kampus naik metromini disambung KRL tanpa gejala kiamat sama sekali, dan siangnya ke kantor tabloid itu langsung menyetorkan kolom dengan judul “Lewat!”. Kolom minggu itu bikin beberapa pembaca (teman2 saya sendiri) menyampaikan ketakjubannya karena tumben saya mengutip ayat Quran, dari surat An Naazi’at ayat 6-7. Ya ampun, itu kan surat <i>juz amma</i> aja, lulusan madrasah diniyah macam saya bisa lah membacanya. <br><br>Saya tidak sempat mendokumentasikan semua kolom yang saya tulis selama kira2 sembilan bulan aktif di tabloid itu, karena file-nya tersebar di komputer lama atau komputer kantor, yang sekarang entah sudah jadi apa. Tapi satu kolom yang sempat bikin hati girang, yang terbit kira2 Desember 1999, dan berjudul “Orang Bodoh”. Saya memberi <i>lead</i> kutipan Mencken, lupa apa tepatnya, tapi tentang orang bodoh yang merasa pintar dan orang pintar yang merasa bodoh. Kutipan itu juga “boleh nemu” di buku tentang editorial, salah satu bacaan sok pintar saya saat mengambil mata kuliah Menulis Feature dan Editorial (sampai tiga kali karena dua kali tidak lulus).<br>Bukan isi kolom itu (tentang mahasiswa yang masih malas menulis karena merasa “tidak berbakat”) yang bikin saya girang, tapi sebuah surat pembaca yang datang ke redaksi pada minggu berikutnya. Penulisnya juga entah siapa saya lupa, tapi dia membedah artikel tabloid kami dengan menulis poin2 yang membuat kami di redaksi manggut2 takzim bak ditegur dan dijewer karena sayang. Dan, tulis si pembuat surat pembaca itu, kolom “Orang Bodoh” itu merupakan tulisan kesukaannya pada edisi tabloid kami yang lalu.<br><br>Seandainya, si penulis surat pembaca itu tahu bahwa saya menulis kolom itu tanpa keseriusan, hanya bermodal buku Editorial, sambungan internet dan kegalauan karena skripsi saya yang belum selesai juga, akankah nasib saya akan sama seperti Celal Sadik?

<br/><br/>

<a href=”https://www.goodreads.com/review/list/1007892-bunga-mawar”>View all my reviews</a>

Advertisements

Di Balik Kebenaran Salju

images

Judul: Snow (Di Balik Keheningan Salju)
Penulis: Orhan Pamuk
Penerjemah: Berlian M. Nugrahani
Penerbit: Serambi, 2008
Tebal: 729 halaman.

“Melakukan hal yang benar tidak selalu berakhir dalam kebahagiaan,” jawab Kadife.
“Hal yang benar membuat kita bahagia,” ujar Ka.

Kutipan halaman 566 buku #Snow dari Orhan Pamuk dalam edisi bahasa #Indonesia, setoran untuk #TantanganBacaGRI bulan Juni 2016.
Entah siapa pun yang bilang; dalam konteks ruang dan waktu apapun; saya setuju bahwa kebenaran adalah hal utama.

Jadi, secara ringkas, novel ini mengisahkan kehidupan bangsa yang terombang-ambing di pengujung abad silam. Bangsa ini bisa bangsa manapun, yang anggotanya terpisahkan satu sama lain akibat keyakinan pada “kebenaran” yang berbeda.
Sebut saja bangsa dalam novel ini: Turki. Sebagian ada yang tetap berpijak di lokasi yang sama dengan wilayah sekuler yang menjadi basis Mustafa Kemal. Sebagian lagi sudah menyeberang jauh hingga ke Jerman.
Mereka yang di Turki pun terpecah antara yang meyakini sekularisme sbg kebenaran dan yang meyakini kebenaran sejati ada dalam kitab Allah.
Para sekularis masih terbagi antara masyarakat yang apatis dan kelompok yang suka keramaian.

Di antara mereka yang mempercayai kebenaran Alquran pun terbelah: ada yang tegas melawan bersama senjata dan ada yang berusaha menyebarkan kata2 lembut.

Aaah… Lalu kebenaran itu apa? Ka Sang Penyair Eksil, datang dari Jerman ke Kars, kota kecil dekat perbatasan Rusia dengan harapan besar memperbarui memori cinta lamanya dengan si cantik Ipek. Saat badai salju menutup akses dari dan menuju Kars, Ka ikut terjebak bersama semua orang di Kars, terjebak dalam jaring2 bercabang sekularis, islamis, ateis, nasionalis, politis, platonis, eksibisionis, spionase, puitis, dan cinta tak romantis.

Sebut saja semua. Dan Ka berada di tengah jaring itu, mempertemukan semuanya namun tidak mempersatukan. Hingga nyawanya lepas dari badan, kembali.di Jerman.

Hingga di akhir kisah novel ini, bahkan hingga di akhir Juni 2016 lalu saat serangan bom bunuh diri mengambil nyawa puluhan orang di Istanbul, tetap saja pertanyaan mengenai.”kebenaran” jadi sesuatu yang relevan.

Kebenaran, veritas, vérité.
Eh, jadi Véra dong :).

Tambahan:
Selesai dibaca (akhirnya!) setelah hampir satu bulan.
Setelah dikirimi pesan dari Perpustakaan untuk mengembalikan buku yang telah lewat masa peminjamannya ini.

Setelah tersiar kabar baku tembak dan peledakan di Bandara Attaturk, Istanbul, dua hari lalu 😥

Persekutuan Penyihir (The Black Magician Trilogy #1)

Oleh Ariansyah (Angkatan 5 SMART EI)

Image

Judul asli: The Magicians’ Guild. Penulis: Trudi Canavan. Penerjemah: Maria M. Lubis. Penerbit Mizan Fantasi, Juli 2008. Tebal 618 halaman.

Buku ini bercerita tentang kehidupan di suatu negeri yang bernama Kyralia yang dipimpin oleh seorang raja. Di Kyralia ada empat daerah besar, yaitu lingkar Utara, Selatan, Barat dan Timur. Semua lingkar ditempati oleh penduduk yang berbeda. Biasanya orang kaya atau bangsawan akan tinggal di lingkar dalam dari daerah tersebut. Di semua lingkar terdapat tembok penjaga. Pada lingkar selatan ditempati oleh persekutuan penyihir yang dipimpin seorang ketua tertinggi. Namun dalam kegiatan sehari-hari para penyihir biasanya mendapat tugas dari ketua harian.

Cerita berawal ketika para penyihir sangat berusaha keras menangkap seseorang yang menguasai sihir namun bukan termasuk anggota persekutuan, bahkan kemungkinan orang itu berasal dari kalangan miskin. Hal ini cukup mengagetkan karena pertama, biasanya hanya orang yang berkantung tebal saja yang dapat menjadi penyihir, dan kedua, orang tersebut belum bisa menguasai sihirnya sehingga dianggap sangat berbahaya jika dibiarkan berkeliaran. Karena itu para penyihir berupaya keras menangkap orang tersebut untuk dibawa ke persekutuan dan diajarkan pengendalian sihir.

Orang yang dicari-cari tesebut bernama Sonea, seorang perempuan muda yang belum bisa mengendalikan kemampuan sihirnya. Bersama temannya, Cery, Sonea meminta perlindungan pada Kaum Pencuri, yaitu sekelompok orang yang tinggal di lorong bawah tanah tetapi sangat terbuka akan informasi yang berasal dari permukaan. Sonea dan Cery bersembunyi di lorong-lorong gelap secara berpindah-pindah seiring pergerakan para penyihir yang mengejar mereka.

Walau keduanya selalu berpindah tempat di dalam lorong-lorong Kaum penduru, namun keberadaan kelompok mata-mata berhasil mengetahui jejak persembunyian mereka. Para penyihir menangkap Sonea dan Cery. Sonea pun dibawa ke persekutuan penyihir.

Sonea mendapat bimbingan dari seorang penyihir bernama Rothen. Ia diajari cara mengendalikan sihirnya. Rothen juga memberi informasi mengenai persekutuan penyihir dan para penyihirnya, termasuk ketua tertinggi, Akkarin. Sonea yang penasaran jadi ingin tahu mengenai Akkarin.

Tibalah hari keputusan untuk menentukan siapakah penyihir yang akan menjadi pembimbing Sonea. Dua orang penyihir mencalonkan diri untuk bisa menjalankan tugas itu. Serangkaian kejadian luar biasa kemudian berlangsung. Cery yang selama ini disekap Fergun, sorang penyihir yang dikenal suka menghina kaum miskin, berhasil meloloskan diri. Fergun sendiri selama ini bersaing dengan Rothen untuk menjadi pembimbing Sonea. Rothen-lah yang terpilih menjadi pembimbing Sonea, sementara Fergun ternyata memang bermaksud membalas dendam pada Sonea yang dianggap mempermalukannya pada hari pertama kekuatan sihir Sonea muncul.

Hal paling mengejutkan adalah ketika ketua harian persekutuan penyihir membaca pikiran Sonea berisi gambaran tentang ketua tertinggi penyihir, Akkarin, yang menggunakan sihir hitam terlarang.

Apa yang sebenarnya terjadi pada sang ketua tertinggi?

*bersambung :p*

Joshua Joshua Tango

Oleh Vera Darmastuti

Judul buku: Joshua Joshua Tango. Penulis: Robert Wolfe. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, September 2008. Tebal 384 halaman.

Jangan terkecoh dengan sampul depan buku ini yang terkesan seperti buku cerita khayalan anak kecil yang tidak punya daya tarik selain kura-kura terbang. Ternyata ini buku anak-anak kontemporer yang dahsyat. Ada mimpi yang menjangkau awan, cinta ayah bunda, kepercayaan dan kebimbangan pada sahabat, juga rasa takut, putus asa dan benci. Semua ada di sekitar kita. 

Aslinya, buku ini menceritakan kehidupan terpencil Marcel Groen, anak SD di Belanda yang ditinggal ibunya bekerja sebagai pekerja sosial di India, sedangkan ayahnya sibuk dengan berbagai penelitian di kampus. Marcel ini bertubuh kecil, berambut keriting, pendiam dan tak pernah diajak main sepakbola walau pun pemain tim sekolah kurang jumlahnya. Sering kali ia dipukuli anak-anak tetangganya, Ed dan Luc yang lebih besar dan bersekolah di SD lain. Kehidupan Marcel hanya berwarna saat di depan komputer kamarnya, memainkan game sepakbola dan menjadi komentator radio khayalan. 

Marcel mendadak punya dunia lain saat Joshua dibawa ayahnya pulang untuk diteliti. Joshua ini kura-kura Brazil yang besar, ditangkap di kampung halamannya karena konon bisa menyanyi dan berbicara. Sepanjang penangkapan Joshua tak mengeluarkan suara apa pun, membuat putus asa para peneliti. Nah, saat hanya di depan Marcel saja kemudian Joshua mengeluarkan kemampuannya. Bersahabat dengan Joshua yang menggandakan huruf “r” saat berbicara ini Marcel belajar untuk menjadi anak yang berani. 

Keberanian Marcel diawali dengan menantang kiper sekaligus kapten tim sepakbola sekolah, Jan-Willem, untuk menendang 5 bola penalti agar bisa diterima sebagai anggota tim. Hasilnya sungguh dahsyat. Si pecundang Marcel bukan hanya berani meminta maaf pada tetangga galak yang kebunnya diacak-acak anak-anak pemain bola. Ia kini berani mengangkat tangan menjawab pertanyaan guru di kelas, menulis surat untuk ibunya di India, menendang balik saat dianiaya Ed dan Luc, dan walau sambil ketakutan, menyusun siasat membebaskan Joshua dan kolonel tua yang diculik gembong penjahat. Bahkan Marcel juga terlibat aktif dalam “pelarian” Duca, seorang anak jago bola asal Kroasia yang sedang mengungsi di Belanda. 

Tapi buku ini bukan hanya mengenai metamorfosis Marcel. Banyak bagian dari buku ini yang begitu emosional manakala Joshua sedang ambil bagian. Kura-kura ini begitu kocak, unik, dan tanpa harus memberi jawaban, semua pertanyaan Marcel bisa tergenapi. Nilai-nilai yang dibawa penyuka milkshake cacing tanah ini sangat menyentuh dan universal. Alasan Joshua hanya buka mulut di depan Marcel bagi saya begitu sempurna: ia hanya ingin pulang kampung kembali ke Brazil berkumpul dengan keluarganya. Jika para peneliti tahu kemampuan spesiesnya bernyanyi lagu opera, berkomunikasi lewat gelombang pikiran, juga terbang dengan tenaga mimpi, itu berarti kiamat bagi semua jenisnya. 

Rasanya bakal sangat panjang jika hal-hal yang menarik dari buku ini saya sebutkan semua. Satu hal yang jelas adalah cara bercerita Robert Wolfe sang pengarang buku ini [catatan pribadi: dia mantan pilot loh! :D] begitu memikat dan mengikat. Bagian berikut ini, misalnya: 

“Apa yang terjadi di sini benar-benar tidak masuk akal, Bapak-bapak dan Ibu-ibu, dalam menit terakhir dua penalti berturut-turut. Saya tidak tahu itu bisa terjadi dan saya tidak tahu apakah memang boleh dilaksanakan, tapi itu betul-betul adil! Bukan main luapan kemarahan kiper tadi. Dan seolah-olah tidak ada apa-apa, Marcel Groen yang kecil itu juga akan melakukan tendangan penalti yang kedua.” 

Kali ini tidak ada suara pukulan pada papan iklan. Tidak ada sorak-sorai, tidak ada teriakan. Semua penonton, semua pemain, Jerry dan semua pendengar, serta seluruh dunia seakan menahan napas. 

Saya juga ikut menahan napas! Sungguh. Walau menggunakan sudut pandang orang ketiga, tapi pembaca bakal merasa menjadi Marcel, anak SD yang awalnya lebih sering memandang dunia dengan cara menunduk karena krisis PD. Belum lagi penggambaran bahwa seminder-mindernya Marcel, ia tetap anak cowok Belanda yang bermimpi bermain sepakbola ditonton banyak orang di lapangan hijau seperti Dennis Bergkamp dengan segala resikonya. Sebagai cerita anak-anak, ujung cerita pun terasa manis, masuk akal dan tidak terjebak pada gaya Hollywood. 

Hoho… sedikit catatan untuk editor, kadang-kadang dobel “r”-nya Joshua tidak konsisten. Tapi itu nggak penting. Yang penting adalah saat membaca buku ini di pojok buku baru yang belum terdata untuk boleh beredar di perpustakaan sekolah, saya sampai berkeliling mewawancarai seorang guru biologi, seorang guru geografi, seorang kepala perpustakaan, dan lima orang siswa, apa istilah yang mereka gunakan untuk benda keras yang ada di punggung kura-kura. Ternyata jawaban mereka beragam: batok, cangkang, sangkar(!), rumah, tempurung, dan sang guru biologi memberi istilah ilmiah yang saya tidak ingat lagi sekarang. 

Jawaban-jawaban itu tidak sama dengan yang ada di buku ini, membuat saya ingin mencari kamus Bahasa Belanda, yang sayangnya tidak ada di perpus kami. Penasaran, apa ya bahasa Belanda untuk benda keras yang ada di punggung kura-kura itu, sehingga di buku ini benda tersebut diterjemahkan sebagai PERISAI.

“Pangeran Kecil Telah Kembali…”

Oleh: Vera D. Damiri.

Judul buku : Pangeran KecilPengarang : Antoine de Saint-Exupery. Penerjemah : Hendrik Muntu (diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari The Little Prince and A Letter to A Hostage, terjemahan bahasa Inggris oleh TVF. Cuffe dari edisi Perancis Le Petit Prince). Penerbit : Jendela, Yogyakarta, Maret 2003. Tebal : xlxii + 167 halaman

Dunia anak-anak sering dianggap membosankan oleh banyak orang dewasa. Bermain dan berkhayal, kegiatan favorit anak-anak, dianggap pemborosan waktu oleh orang dewasa yang menganggap semestinya anak-anak lebih tekun belajar, agar “kelak menjadi pintar dan bisa bekerja untuk mendapatkan banyak uang”. Sebaliknya kegiatan orang dewasa yang serius pun dipandang membosankan oleh anak-anak. Setiap hari rutin bekerja keras demi memperoleh uang, makanan, rumah, dan barang-barang lain, bukan hal menarik bagi anak-anak karena bagi mereka banyak hal-hal kecil lain yang tak kalah penting yang bisa membuat hidup lebih menyenangkan.

Maka beruntunglah orang dewasa yang bisa memiliki pengertian atas masa kanak-kanak yang ceria. Orang-orang ini bisa belajar banyak hal menuju kebaikan dengan bercermin pada tingkah laku anak-anak yang masih murni. Sayangnya makin sedikit orang dewasa yang bisa memahami pikiran anak-anak, setidaknya untuk membiarkan anak-anak punya daya khayal sendiri. Yang lebih sering terjadi, keberadaan anak-anak malah dianggap perintang pekerjaan orang dewasa! Memang ironis, kebanyakan orang telah melupakan bahwa semua orang dewasa pada mulanya adalah anak-anak, seperti kata penulis dan penerbang asal Perancis, Antoine de Saint-Exupery dalam lembar persembahan bukunya Le Petit Prince.

Diklaim sebagai sebuah cerita berbahasa Perancis yang paling inspiratif dan paling banyak diterjemahkan di seluruh dunia, Le Petit Prince pertama kali terbit tahun 1943. Kisahnya dimulai dari tuturan seorang pilot pesawat udara mengenai masa kecilnya. Saat berusia enam tahun ia sudah menghadapi sifat pengatur orang dewasa yang melarangnya meneruskan kesenangan menggambar. Setelah besar dan menjadi pilot, suatu ketika pesawatnya mengalami kerusakan dan terpaksa mendarat sendirian di tengah keluasan padang pasir Sahara. Sang pilot kemudian didatangi seorang anak kecil berambut keemasan yang memintanya menggambarkan seekor biri-biri. Selama berhari-hari pilot tersebut berusaha mengetahui kisah hidup “Pangeran Kecil” itu, dan ketika hampir seluruh riwayat Pangeran Kecil akhirnya terbuka, ternyata waktu perpisahan pun tiba. Pangeran Kecil itu kembali ke planetnya yang sangat jauh dari bumi…

Le Petit Prince bisa dibilang merupakan gabungan antara dongeng dan fabel. Pendongengnya adalah sang pilot yang terdampar di gurun, sementara tokoh ceritanya adalah seorang anak yang banyak tanya, sekuntum bunga mawar yang melankolis, seekor ular gurun yang suka berteka-teki, dan seekor rubah yang menanti seseorang untuk menjinakkannya. Kisah yang melibatkan tokoh-tokoh ini begitu menyentuh, sehingga sang pilot pendongeng terkadang tak bisa menahan perasaannya dan membuat kita yang membaca dongeng itu ikut terhanyut.

Pangeran Kecil yang menjadi tokoh cerita ini berasal dari “Asteroid B 612”, sebuah benda angkasa di antara sekian ribu asteroid lain. Ukuran asteroid itu begitu kecil sehingga tidak lebih besar dari sebuah rumah (halaman 17). Di sana tadinya hanya terdapat tiga buah gunung, benih-benih pohon baobab dan bunga liar biasa yang tersembunyi di dalam tanah, hingga suatu hari tumbuh sekuntum bunga mawar yang cantik dan suka mencari perhatian. Pangeran Kecil diam-diam mencintai mawar itu, tapi ia tak tahan dan pergi meninggalkan planetnya; berkelana di planet-planet lain dan menjumpai penghuninya, sebelum akhirnya tiba di Bumi.

Banyak hal menarik yang dijumpai Pangeran Kecil dalam perjalanan melintasi bintang-bintang. Ada gambaran sifat egois dan sewenang-wenang manusia dewasa pada sosok Raja; si Congkak; Peminum; dan Pengusaha. Namun ia juga mempelajari bentuk kesetiaan pada wujud Penjaga Lampu (hal 45-69). Perjumpaan dengan seorang ahli geografi yang tinggal di sebuah planet, dan dengan seekor rubah Bumi yang bijak malah membuatnya makin teringat akan bunga mawar yang ditinggalkannya sendirian. Ia belajar bagaimana suatu makhluk hidup tercipta untuk “mengikat” hati dan pikiran makhluk hidup lain, perasaan yang akhirnya menjalari sang pilot dengan kehadiran Pangeran kecil itu bersamanya di tengah gurun pasir.

Tidak berlebihan rupanya jika dikatakan kisah Pangeran Kecil ini sebagai salah satu karya sastra klasik abad ke-20 yang mendunia dan tidak lekang oleh zaman. Walau tergolong bacaan anak-anak, pembaca dewasa juga bisa menikmati dan ikut terhanyut pada nilai-nilai kemanusiaan dan kisah-kisah hubungan antarmakhluk hidup yang ada di buku ini.

Keseluruhan kisah Pangeran Kecil ini benar-benar selalu menarik untuk dibaca. Pilihan gaya bahasa ringan yang dipakai Saint-Exupery berhasil menempatkan tokoh pilot yang bertindak sebagai pendongeng kepada teman-teman kecilnya sebagai orang dewasa yang masih berhati kanak-kanak. Di beberapa bagian ia sering menyatakan rumitnya jalan pikiran orang dewasa sebagai refleksi atas pengalaman masa anak-anaknya. Namun pilot itu juga, apa boleh buat, tetap seseorang yang kini telah dewasa. Di depan Pangeran Kecil ia sering dilanda perasaan bingung pada waktu menghadapi seorang anak yang seperti semua anak lainnya hidup di dalam dunia dan pemahaman mereka sendiri.

Kekuatan lain dari pesona abadi Pangeran Kecil adalah hiasan gambar-gambar yang dibuat sendiri oleh Saint-Exupery di sela-sela ceritanya. Gambar-gambar itu begitu khas imajinasi anak-anak dengan tarikan garis pada bunga, ular, bintang, planet, dan padang rumput yang tidak rapi. Belum lagi gambar sang Pangeran Kecil yang berwajah polos dengan rambut berantakan dan selendang lehernya yang berkibar tertiup angin. Semuanya menyatu dengan cerita, dengan penjelasan dari sang pilot yang berulang kali mengingatkan para pembaca bahwa ia tak lagi pandai menggambar! Karena itu pula, ada kalimat, “Aku tidak akan menggambarkan pesawat terbangku di sini karena terlalu sukar” (halaman 14).

Tidak diperlukan pengetahuan ilmiah yang rumit di sini untuk menggambarkan bagaimana seorang “makhluk luar angkasa” seperti Pangeran Kecil bisa berkelana di antara bintang. Ingat, ini adalah cerita anak-anak. Saint-Exupery tidak menempatkan pembacanya untuk bersusah payah memikirkan bentuk teknologi penerbangan antarbintang (hal yang belum terwujud saat cerita ini terbit pertama kali), tapi ia juga tidak mau meremehkan kemampuan berpikir mereka. Maka walau Pangeran Kecil tidak menggunakan pesawat ruang angkasa apa pun, ia juga tidak cuma meloncat ke planet lain. Dengan mengikatkan diri pada sekelompok burung yang berpindah tempat, sang pangeran pun bisa meninggalkan planetnya.

Dibandingkan karya-karyanya yang lain, Pangeran Kecil memang merupakan karya Saint-Exupery yang paling banyak dikenal. Edisi bahasa Indonesia buku ini oleh penerbit Jendela dialihbahasakan dari The Little Prince and A Letter to A Hostage terbitan 2002 oleh Penguin Books, London. Satu catatan mengenai edisi ini, karena diterjemahkan dari sebuah karya terjemahan, hal itu juga menyebabkan mutu terjemahan yang kedua ini kurang terjaga. Terutama bagi mereka yang pernah membaca karya aslinya dalam bahasa Perancis (terbitan Gallimard), seperti ada “rasa” yang kurang dalam cerita ini. Belum lagi terdapat banyak kesalahan penerjemahan yang sebenarnya sepele tapi bisa juga membuat bingung dan kalau dikumpulkan jadi menganggu suasana cerita. Padahal sesungguhnya ini bukan kali pertama Le Petit Prince dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia. Tahun 1979 penerbit Pustaka Jaya pernah menerbitkan Pangeran Kecil dengan cukup berhasil menjaga kelincahan dan kepolosan kisah aslinya, hasil terjemahan Tresnati, Ratti Affandi, Hennywati dan Lolita Dewi yang diedit oleh sastrawan Wing Kardjo (almarhum).

Selain cerita Pangeran Kecil, dalam buku ini dimuat karya lain Saint-Exupery, Surat Kepada Seorang Tahanan, yang pertama kali diterbitkan pada November 1942. Kisah ini bukan fiksi, namun merupakan suatu refleksi pengalaman dan pemikiran Saint-Exupery serta kerinduan pada sahabatnya yang tertahan di Perancis. Ditulis saat ia dalam perjalanan menuju Amerika Serikat melalui Portugal, suasana Perang Dunia II di dataran Eropa sangat terasa, dan sedikit banyak menambah kemuraman pula pada kisah Pangeran Kecil yang telah pergi meninggalkan Bumi di cerita sebelumnya.

Selain masalah ketidakakuratan penerjemahan, ada catatan lain atas penerbitan edisi ini. Di satu sisi, pilihan penerbit Jendela menggabungkan dua karya ini dalam satu terbitan – barangkali mumpung keduanya ada dalam satu edisi bahasa Inggris yang lebih mudah diterjemahkan – tak disengaja menjadikan kisah Pangeran Kecil terkurangi bobotnya sebagai bacaan anak-anak, sebagaimana disiratkan dalam bagian Pendahuluan. Artinya buku ini agaknya bertujuan untuk dibaca dan dipahami oleh pembaca dewasa. Namun di sisi lain, dua karya penulis yang saat kematiannya hingga kini masih diliputi misteri itu, bisa menjadi perbandingan dan renungan kembali bagi pembaca dewasa mengenai makna persahabatan dan memahami keberadaan orang lain.

Dan mungkin juga, sebagai pengingat pada masa kanak-kanak bagi kita yang saat ini merasa sudah dewasa. Seperti Saint-Exupery, kita akan merindukan kepolosan dan ketulusan hati Pangeran Kecil yang dulu pernah kita rasakan. Kita nantinya juga berharap seseorang mengabarkan kedatangan sang Pangeran Kecil, bahwa “…ia telah kembali.”

(Catatan sedikit: Review asli ditulis tahun 2003)

Mengunjungi Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken

Oleh: Vera D. Damiri

Judul asli: Bibbi Bokkens magische Bibliothek. Pengarang Jostein Gaarder & Klaus Hagerup. Penerjemah: Ridwana Saleh. Penerbit Mizan, 2006, tebal 294 halaman.

*review ini pindahan dari goodreads.com, dibuat bulan Maret 2008:) *

Nils Torgersen dan Berit Boyum dalam buku ini bergantian menulis di sebuah buku-surat yang mereka kirimkan melalui jasa pos. Bukan cuma kabar tentang keluarga, mereka juga bertukar ide gila dan imajinasi.

Oiya, Nils (cowok) dan Berit (cewek) adalah dua remaja bersepupu yang tinggal di dua kota Oslo dan Fjaerland yang tepisah ratusan kilometer di Norwegia. Buku-surat adalah ide mereka mengumpulkan “kata-kata dalam album, bukan foto”. Semua hal mereka ceritakan bergantian, saling membalas dan bersambungan.

Tadinya hal sepele dalam pikiran muda mereka yang dijadikan bahan cerita, misalnya tentang riwayat pembelian buku yang mereka jadikan buku-surat ini, dan tentang hal-hal yang mereka temui sehari-hari. Sebuah nama “Bibbi” yang dibaca Berit pada sebuah surat akhirnya menghantui mereka dan menghantarkan kedua tokoh utama ini pada sosok Bibbi Bokken, seorang perempuan misterius yang nampaknya punya kemampuan untuk ada di mana saja dan ternyata mengenal siapa saja.

Dalam upaya mereka mencari tahu apa dan siapa sebenarnya Bibbi Bokken itu, Nils dan Berit dihadapkan pada banyak teka-teki aneh. Misalnya, apakah Bibbi Bokken itu seorang pembunuh berseri yang mencintai buku, penasehat rahasia mantan Wakil Presiden AS Walter Mondale atau sekedar perempuan setengah baya yang kesepian di rumah kosong bercat kuningnya? Apa sebenarnya rencana Bibbi dengan “buku yang akan terbit tahun depan”? Lalu apa hubungan antara Bibbi dengan Astrid Lindgren dan bahkan Ratu Sonja?

Bab pertama buku ini menempatkan pembaca pada alam pikir dan prasangka Nils dan Berit tentang hal yang mereka hadapi. Surat keduanya yang sambung-menyambung membawa kita pada makin rumitnya keseharian mereka, dan semuanya berhubungan dengan Bibbi! Kita bagaikan melihat bagaimana kedua remaja ini dipaksa memutar otak menggali berbagai misteri dalam berbagai cara yang mereka bisa. Berit harus pura-pura menjual karcis lotere ke rumah Bibbi, dan Nils bagaikan detektif memanfaatkan kunjungan akhir pekan bersama orang tuanya ke Roma untuk melacak jejak surat yang dikirim untuk Bibbi.

Dalam bab pertama inilah banyak hal yang terkait dengan buku digelar, mulai dari istlah incunabula, bibliophile, klasifikasi desimal Dewey untuk katalog perpustakaan, hingga pengenalan para tokoh penulis drama (Henrik Ibsen), memoar (Anne Frank), dan cerita anak-anak (HC. Andersen, Astrid Lindgren, dan AA. Milne). Hal yang menyenangkan adalah, semua hal ini tidak muncul berdesak-desak, tetapi dengan sabar menanti diselipkan bergantian pada salah satu surat Nils atau Berit. Rasanya seperti mengikuti sandiwara radio di mana tokoh-tokohnya bergantian muncul tanpa disangka dan kita bisa tahu peran mereka dari alur cerita yang berjalan.

Akhirnya setelah lebih dari dua pertiga buku, pembaca dibawa pada petualangan naratif nir-teks Nils dan Berit. Bab ini diawali seperti film yang menunjukkan pada penonton bahwa “tokoh kita ditangkap garong!” Kedua jagoan kita akhirnya menyibak rahasia besar Bibbi Bokken di hadapan orangnya sendiri, rahasia yang akhirnya membuat pembaca terperangah: jadi Bibbi ini sebenarnya penjahat atau jagoan, sih?

Hal yang membuat saya begitu terpikat pada buku ini adalah kemampuan kedua penulisnya untuk bercerita dengan begitu khas remaja. Kesembronoan, keangkuhan sekaligus ketakutan anak belasan tahun bisa terlihat dari tiap kalimat di buku ini. Tulisan dalam buku surat misalnya, mencerminkan ketinggian daya khayal anak-anak, di mana kadang Nils menjadi detektif, kadang sastrawan dan Berit bisa juga jadi pencuri profesional. Layaklah bila membaca buku ini kita akan lebih menghargai buku, atau lebih luasnya, budaya baca tulis.

Saya kutipkan salah satu narasi dari Nils di buku ini: “…setiap kali membuka sebuah buku, aku akan bisa memandang sepetak langit. Dan jika membaca sebuah kalimat baru, aku akan sedikit lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan segala yang kubaca akan membuat dunia dan diriku sendiri menjadi lebih besar dan luas…”

Yuk, bangun perpustakaan rahasia kita sendiri!

Cerita Sang Pahlawan (Heroes of the Valley)

Oleh Vera D. Damiri

Judul asli: Heroes of the Valley. Pengarang: Jonathan Stroud. Penerjemah: Poppy D. Chusfani. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, April 2011. Tebal: 488 halaman.

Apa itu pahlawan? Pastinya orang yang melakukan aksi untuk kebaikan. Pahlawan bisa tunggal, bisa banyak. Pahlawan itu bisa saja dielu2kan, disanjung dan dipuja namanya ke delapan penjuru mata angin. Tapi banyak juga pahlawan yang berjaya dalam sunyi, tanpa tempik sorak, senandung ode, atau puja puji.

Jonathan Stroud yang sebelumnya dikenal lewat Trilogi Bartimaeus si jin tengil, kembali menghadirkan karya yang membuat kita kembali mempertanyakan kepahlawanan. Jika dalam Trilogi Bartimaeus pembaca dibuat geregetan atas ambisi dan sepak terjang penyihir muda Nathaniel untuk bisa duduk di kementerian Pemerintah Inggris entah di masa kapan itu (diwarnai kekonyolan si Jin Barty, tentunya), buku “Para Jagoan Lembah” ini menghadirkan ambisi menjadi pahlawan lewat tokoh pemuda Halli. 

Halli Sveinsson, empatbelas tahun, adalah anak ketiga kepala klan Svein, salah satu klan yang ada di lembah. Sebagai anak bungsu, ia dekat dengan pengasuh tuanya, yang banyak mendongenginya kepahlawanan Svein Sveinsson sang pendiri klan. Svein dulu memimpin tokoh2 dari klan lain untuk menghancurkan gerombolan Trow, makhluk buas pengganggu kedamaian hidup warga lembah. Sebelas pria pemimpin sebelas klan bertempur habis2an di Bukit Makam, hingga semua Trow musnah dari lembah. Hingga sebelas pemimpin itu habis juga riwayatnya.

Bagi Halli yang berpenampilan kecil, berkulit gelap dan berwajah tidak setampan abangnya sang calon pemimpin klan, hidup tenang di lembah mengurus kebun dan domba sangat membosankan. Ia memimpikan beraksi seperti masa Svein dan para pemimpin klan bertempur melawan Trow, karena itu ia selalu mencari kesempatan untuk menjauh dari lembah dan kediaman klannya untuk mencari petualangan seru.

Berhasilkah Halli?

*bersambung* 🙂


Resensi: Terlibat di Bromo (Sandi #1)

Penulis: Dwianto Setyawan. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, 1986. 

Rin Dama, Agung dan Ilhamsyah adalah tiga sekawan dari Surabaya. Mereka berencana berlibur ke Bromo untuk menikmati keindahan kawah Bromo. Tapi saat liburan itu, mereka dikejar-kejar oleh seorang laki-laki jangkung hanya karena Rin memotretnya. Di samping itu Rin juga sempat mendengarkan percakapan rahasia tentang suatu barang bernilai mahal yang ingin didapatkan oleh orang-orang misterius. Karena penasaran, mereka mendirikan kelompok penyelidik bernama SANDI.

Maka dimulailah petualangan yang membawa mereka ke sebuah kasus pernjualan ilegal benda purbakala peninggalan dari zaman Majapahit.

Buku ini lumayan bagus, tapi menurut saya ada kata-kata yang tidak pas dengan di kehidupan nyata. (01.2011)

Diresensi oleh Ahmad Zuhhad Abdillah (SMART EI Angk.6)